Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Sejarah

Atap Meru Susun Sebelas Masa Majapahit

610
×

Atap Meru Susun Sebelas Masa Majapahit

Sebarkan artikel ini

Arsitektur arkais pada relief "Parthayajna" candi Jajaghu

Oleh : M. Dwi Cahyono (Arkeolog – Sejarahwan Nusantara)

A. Atap Meru sebagai Komponen Arsitektur

Salah sebuah komponen bangunan adalah “atap”. Apapun bentuk bangunannya, komponen atap itu senantiasa hadir. Atap pun juga memiliki beragam bentuk dan susunan. Salah satu diantara adalah apa yang dinamai dengan “atap tumpang”, yang juga acap disebut “atap meru”. Suatu bentuk atap yang kuno (arkais), yang pernah dan masih kedapatan di Nusantara pada masa lalu dan berlanjut penggunaannya hingga kini. Atap tumpang (meru) tak hanya terdapat di Nusantara, namun kedapatan juga di negeri lain, termasuk juga atap apagoda di Asia Timur. Tulisan ini bermaksud mecak jejak atap tumpang (meru) di Jawa pada Masa Hindu-. Buddha dengan menggunakan relief candi sebagai sumber datanya.

Jika melihat bangunan tradisional dengan bentuk atap tumpang (meru), maka asosiasi kita mengarah pada bangunan suci pada kompleks pura di Pulau Dewata Bali. Bangunan dengan atap gasal (ganjil), mulai dari susun tiga hingga yang besusun sebelas menjadi pemandangan yang jamak bada bangunan – bangunan suci Hindu di antero wilayah Bali. Sampai sampai, bentuk atap ini menjadi “ikon arsitektural”, yang khas di Bali. Lantaran bentuknya yang tinggi menjulang, bagai gunung Himalaya, maka sebutan terhadapnya adalah “Meru”, yakni nama arkais dari Himalaya yang dalam.agama Hindu ataupun Budha dikonsepsi sebagai “gunung suci (holy mountain)”. Sedangkan susunannya yang satu menumpang di atap yang lain — semakin ke atas makin kecil” menjadi lantar untuk menyebuti dengan “atap tumpang”.

Baca Juga:  Diari Anne Frank yang Melegenda, Ungkap Kekejaman Nazi

B. Jejak Keberadaan Atap Meru pada Relief Candi Jajaghu

Sebenarnya, di dalam sejarah arsitektur Nusantara, bentuk atap meru tidak melulu terdapat di Bali. Namun kedapatan pula di Jawa masa Hindu-Buddha. Pada masa Majapahit (akhir abad XIII hingga awal abad XVI Masehi) makin marak hadir di Jawa, baik untuk bangunan suci ataupun profan. Perihal.demi- kian tergambar pada relief candi, yang oleh menjadi dukumentasi arsitektur pada zamannya. Sejumlah candi yang kini tak lagi beratap, yang diprakirakan telah runtuh dan lenyap jejaknya seperti Candi Jago, Penataran, Boyolangu atau Gayatri, Sanggrahan dan banyak lagi yang lainnya, boleh jadi konon memiliki atap candi berbentuk “tumpang (meru)”. Disamping itu, relief-relief candi era Majapahit tak sedikit yang menggambarkan keberadaannya pada kompleks bangunan sakral ataupun profan. Bahkan, masjid – masjid kuno di Jawa pun banyak yang beratapkan tumpang, sebagai bukti akan kesinambungannya dalam lintas masa.

Salah satu relief yang menggambarkan keberadaan atap meru di Jawa adalah panil relief panjang pada teras II sisi belakan Candi Jajo (Jajaghu,) di dalam relief cerita “Parthayajna”. Relief ini menggambarkan kompleks asrama (srama) yang berada dalam hutan (wana) — karenanya diistilahi “wanasrama”, yakni asrama khusus bagi para rokhaniawam wanita (tapasi, tapini, kili). Dalam perjalannya menuju ke gunung Indrakila untuk bertapa, Parta (mama muda dari Arjuna) beserta dua jurudyah (punakawan)nya melewati dan menyinggahi wanasrama yang bera- da di lereng bawah Indrakila tersebut. Ada sejumlah bangunan suci yang berada di lingkungan berpagar bujur sangkar serta bergapura padhuraksa, dengan bangunan utama berupa bangunan berteras dengan dinding terbuka dan beratap tumpang susun sebe- las. Bentuk bubungan (wuwung) masing-masing lapis atapnya berujung lengkung. Yang juga menarik untuk dicermati adalah bahwa separuh bagian atas atap bersusunnya disertai dengan gambaran pacaran sinar (prabha). Berdasar gambaran arsitek- tural pada panil relief ini, banyak ahli berpendapat bahwa atap Candi Jago konon berbentuk tumpang (meru) susun sebelas.

Baca Juga:  Lacak Data Epigrafis "Akar Yajna Kasada"

Jika benar demikian, bisa dibayangkan bahwa bila atas meru susun sebelas ini dipasangkan pada tu- buh candi Jago yang dilengkapi dengan tiga teras (total tinggi ters i-IIII sekitar 7 meter), tentulah candi jago konon hadir sebagai candi yang tinggi menjulang. Terlebih lagi permukaan tanah dimana candi ini berdiri lebih tinggi dari areal sekitarnya, semakin memberi kesan menjulang, yang karenanya tampak dari kejauhan. Candi Jago karenanya bisa dijadikan sebagai semacam “landmark”. Lantaran beratapkan tumpang, maka areal sekitar desa yang konon ber- nama “Jajaghu (kini disebut “Jago”) diberinya nama “Tumpang”, yang sekarang menjadi nama kecamatan padamana Desa Jago berada. Atap tumpang di Candi Jago sangat mungkin berlapiskan ijuk (duk), yang sayang sekali telah tidak menggalakan jejak. Beruntunglah, panil relief itu nyidorkan gambaran tentang bangunan beratap pumpang susun sebelas, yang cukup alasan untuk memprakirakan atap candi Jago berbentuk tumpang susun sebelas.

Baca Juga:  Jejak Kamp Konsentrasi Boven Digoel yang Melegenda

C. Masa Pembangunan Atap Tumpang di Candi Jajaghu

Candi Jago sebagai pendharmman bagi arwah ra- ja Wisnuwardhana (Mapanji Smuningrat), sangat mungkin mulai dibangun sekitar 12 tahun pasca mangkatnya raja Tumapel ke-3 (setelah Ken Angrok serta Anuaapati), yang mangkat pada tahun 1268 Masehi). Masa pembangunannya tersebut berada di era pemerintahan putranya, yakni Kretanegara, tepatnya pada tahun 1280 Masehi). Namun, candi Buddhis itu pernah mengalam renovasi pada era pemerintahan Hayam Wuruk pada medio abad XIV Masehi. Renovasi terhadapnya dipimpin oleh ang- gata keluarga Majapahit, yakni Adityawarmman. Ada pendapat bahwa selain mengemban tugas untuk merenovasi Candi Jago, Adityawarmman juga memimpin pembangunan candi Buddhis Sajabung (kini : Jabung). Jika benar demikian, arsitektur dan relief-rekuef yang dipahatkan di Candi Jago adalah hasil karya arsitektur dan Ikonografi pada era keemasan Majahit. Dengan demikian atap tumpang (meru) bersusun sebelas di Candi Jago yang ditelaah pada tulisan ini adalah komponen arsitektur era Majapahit.

Demikianlah tulisan ringkas mengenai sebuah pa- nil relief di Candi Jago, yang memuat gambaran mengenai bangunan beratap meru susun sebelas, yang konon pernah hadir di Jawa pada era pemerintahan Majapahit. Jelaslah bahwa atap tumpang (meru) bukan hanya terdapat di Bali, namun pernah pula kedapatan di Jawa pada masa lampau. Semoga tulisan bersahaja ini memberi kefaedahan bagi khalayak pembaca. Nuwun.

Sangkaling. 22 Januari 2023
Griyajar CITRALEKHA

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *