Bali Ngajawa: Upaya Seni Ritus Mandhor Jenterung untuk Melestarikan Tradisi Nenek Moyang

Wartapress, Blitar, Jawa Timur – Sabtu (11/03/23) Togogan, Srengat, Kabupaten Blitar diramaikan oleh pagelaran tunggal Seni Ritus Mandhor Jenterung. Pendopo Ageng Hand Asta Sih selalu melakukan gelaran rutin yang diadakan setiap malam minggu. Rest Area yang tercantum dalam piagam penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Rumah Joglo terbesar di dunia ini dipadati oleh masyarakat yang antusias menyaksikan satu – satunya pentas seni pertunjukan yang patut dibanggakan oleh masyarakat Kabupaten Blitar dengan tema Bali Ngajawa.

Seni Ritus Mandhor Jenterung diciptakan oleh Maryani yang akrab disapa Mbah Yani pada tahun 2021. Seni ini terinspirasi dari akumulasi kegiatan berkesenian Mbah Yani yang dimulai sejak tahun 1980. Mandhor Jenterung merupakan sintesis dari peleburan berbagai macam bentuk seni menjadi sesuatu yang baru. Elemen macapat, jedor, jemblung, kentrung, sastra, teater bahkan lawak, dangdut, ketoprak, dan jaranan semua dimasak dan disajikan rapi di dalam Mandhor Jenterung sehingga menciptkan genre seni pertujukan yang belum pernah ada.

Baca Juga:  Dikirim ke Malaysia Hingga Hongkong, Gus Alvin Lestarikan Seni Medis Tradisional dengan Minyak Kelor

Mandhor Jentrung sudah tercatat dalam Direktorat Hak Cipta Kementerian Hukum dan Ham pada bulan Desember 2022 dan menjadi satu – satunya genre seni pertunjukan yang dimiliki oleh Kabupaten Blitar. Penampilan Seni Ritus Mandhor Jenterung menggunakan media wayang dan peragaan teater. Mbah Yani sendiri yang menjadi dalang wayang dalam pentas seni tersebut. Untuk peragaan teater mereka berkolaborasi dengan siswa SD Gembongan 4 Kabupaten Blitar yang dibina sendiri oleh Mbah Yani sebagai upaya untuk membantu pemerintah dalam pendidikan karakter.

Masih menjaga tradisi, Mandhor Jenterung menggunakan alat nenek moyang agar tidak lepas dari sejarah seperti kendang, jedhor, jemblong, kentrung, kempling, dan kethuk untuk mengiringi pertunjukan. Dalam penggarapannya, lagu, tempo, syair dan filosofinya murni ciptaan baru. Mandhor Jenterung memiliki pakem maksimal personil harus berisi 11 orang, sesaui angka banyaknya macapat. Penampilan Mandhor Jentrung Mbah Yani yang kedua ini memerankan cerita Cemethi Sampungkara.

Mbah Yani yang juga Penasehat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar dan Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur ini menjelaskan sedikit tentang cerita Cemethi Sampungkara. Cemethi adalah senjata pengembala (pecut), pengembala adalah pemimpin. Senjata cemethi digunakan untuk membangkitkan seorang pemimpin. Cemethi jika digunakan dengan tepat akan membangkitkan semangat namun, jika keliru dalam penggunaannya akan mengenai diri sendiri. Sedangkan Sampungkara berarti Sapu Angkara, yaitu membersihkan angkara murka. Jadi bisa diartikan Cemethi Sampungkara adalah senjata untuk membersihkan keangkaramurkaan dan diawali dari Kadiri menuju diri sendiri diawali diri sendiri.

Baca Juga:  Parade Drum dan Tantjapan Dadakan: Sebuah Refleksi Kegembiraan Masyarakat Blitar Menyambut Idul Fitri 1444 H

Cerita Cemethi Sampungkara menggambarkan kebijakan seorang pemangku jabatan. Jika pemimpin atau pembuat kebijakan salah dalam mengeluarkan kebijakan pasti akan mengenai dirinya sendiri. Dan pemangku jabatan itu akan cilaka oleh perbuatannya sendiri.

Lakon Cemethi Sampungkara adalah Begawan Sareng Lono (orang yang mumpuni) dan Raja Jatikusumo (bunga sejati). Dalam cerita pentas tesebut Begawan Sareng Lono diikuti oleh Mandhor dan Jentrung dan Raja Jatikusumo diikuti oleh Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Masyarakat tampak antusias menikmati pertunjukaan Bali Ngajawa. Cerita Cemethi Sampungkara dapat menjadi inspirasi untuk kita berkontemplasi merenungkan diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua Selatan dari Organisasi HMP-MEDIMAS Ikut Meramaikan Karnaval Kebhinekaan di Kota Malang

Kedepannya Seni Ritus Mandhor Jenterung akan melakukan pertunjukan di Sambi dan Pasar Sambi Kediri setelah Hari Raya Idul Fitri 2023. Seni ritus mandhor jentrung adalah salah satu upaya Mbah Yani warga Kabupaten Blitar untuk melestarikan warisan dari nenek moyang. Lewat produk pertunjukan seni Bali Ngajawa, Mandhor Jenterung tampil untuk mengingkatkan masyarakat khususnya kabupaten Blitar agar kembali ke diri sendiri, menjaga budaya kita sendiri.
Pendopo Ageng Hand Asta Sih juga berhasil mewujudkan acara yang kaya akan warisan nenek moyang ini.

“Pengelola Rest Area Hand Asta Sih ternyata masih peduli terhadap seni tradisi, terbukti dari konsep oleh pengelola, salah satunya seni tradisi. Kegiatan semacam ini adalah upaya menjemput bola Undang – Undang no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.” Terang Mbah Yani yang dulunya juga penyiar Radio. (Thareeq A.C/WP). **

Mandhor Jenterung saat latihan / mj
Penulis: Thareeq Adhi ChandraEditor: T.A.C