Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Literasi - WawasanPEMDA

Buku Balaikota Menulis: Kolaborasi Gagasan untuk Malang Berkelas

367
×

Buku Balaikota Menulis: Kolaborasi Gagasan untuk Malang Berkelas

Sebarkan artikel ini

Ikut sumbang pengantar gagasan, dari Peni Suparto, Anton, Sutiaji hingga Pj Walikota Malang Wahyu Hidayat

WartaPress, Kota Malang JATIM – Pada momentum Ulang Tahun Kota Malang yang ke 110, mulai dihidupkan tradisi menulis di lingkungan pemerintah daerah, mendukung budaya literasi di kota pendidikan ini, yang sejak abad 8 sudah lekat dengan budaya baca-tulis-dokumentasi. Sebagaimana diketahui, Piagam Dinoyo (Kota Malang, 760 M), Prasasti Turyan (Kab Malang, 929 M), Prasasti Sangguran (Kota Batu, 928 M) adalah contoh karya leluhur yang membuktikan tingginya peradaban bangsa Nusantara zaman lampau.

Sejumlah ASN Kota Malang lintas OPD yang menangkap potensi historis tersebut, lalu bersinergi menerbitkan Buku Antologi Balaikota Menulis, yang diluncurkan bersamaan dengan HUT 110 Kota Malang 1 April 2024 lalu. Dinamika dan perkembangan Kota Malang, berbagai aspek, dari zaman ke zaman, diulas dalam buku setebal 203 halaman ini.

Buku pertama dari Gerakan Balaikota Menulis ini menghadirkan sejumlah kontributor para mantan Wali Kota Malang, Pj Wali Kota dan beberapa Pimpinan OPD Pemkot Malang sebagai Pengantar menuju lembaran-lembaran gagasan, data, dan narasi untuk kemajuan daerah. Puluhan ASN dari berbagai OPD Kota Malang, mengisi lembaran tersebut dengan berbagai macam tema.

Mulai dari Drs. Peni Suparto, M.AP (Wali Kota Malang periode 2003-2008 & 2008-2013); H. Moch. Anton (Wali Kota periode 2013-2018); H. Sutiaji (Wali Kota periode 2018-2023) dan Pj Wali Kota Malang Dr. Ir Wahyu Hidayat, MM. Tak ketinggalan, M.Nor Muhlas, S.Pd, M.Si (Dirut PDAM) menyumbang tulisan.

Baca Juga:  Apakah Produk Jurnalistik-Pers Dapat Digugat dan Dibawa ke Ranah Pidana?

Selanjutnya, Kepala Dinas Perpustakaan Umun dan Arsip Daerah, Ir. Yayuk Hermiati, M.H, Ir. Diah Ayu Kusumadewi, M.T., (Asisten Perekonomian dan Pembangunan), Dwi Rahayu S.H., M.Hum., (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), ikut serta menyumbangkan gagasannya.

Sementara penulis dari unsur ASN Pemkot Malang: Dwi Rahayu, Diah Ayu Kusumadewi, Agung H. Buana, Agus A. Saikhu, Yogi H. Waseso, Agustina R. Hendrowati, Susana Yulli Sri W., S.I.Pust, Asfa A.N. Aini, Dila M. Dwiharini, Eko Rody Irawan, Fauziah Rachmawati, Nurul Sri Hardiyanti, Prastya Petandra, Ridha Fauziah, Rr. Siti Alisa Nur Zubaidah, Susi Diah Hardaniati, dan lainnya.

Di bagian Pengantar, Peni Suparto menyajikan narasi dengan judul “Sinergi Gagasan untuk Kota Malang di Era Revolusi Industri 4.0“. Mantan Wali Kota 2 periode ini mengingatkan akan besarnya potensi Kota Malang mulai dari sejarah – kearifan lokal, pendidikan, industri kerakyatan dan kepariwisataan. Sehingga katanya, Kota Malang penting melakukan inovasi potensi tersebut sesuai dengan perkembangan zaman yang memasuki revolusi industri generasi ke 4 ini. Misalnya digitalisasi pelayanan, pusat data informasi wisata, wisata virtual, hingga industri kreatif lainnya. Selain itu, tokoh nasionalis alumni GMNI ini menyatakan bahwa konsep “Tri Bina Cita Kota Malang” dan “pengembangan Malang Kota bagian Timur” yang tren pada era kepemimpinannya masih relevan untuk dikembangkan, yang disesuaikan dengan perubahan zaman saat ini.

Baca Juga:  Sambut Bulan Suci Ramadan Pemerintah Kota Malang Gelar Festival Musik Patrol Modern The Beautiful Vibes Of Ramadan 1445 H

Abah Anton mengulas seputar pentingnya mendukung sektor pendidikan, dengan kebijakan kongkrit yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh generasi muda dan masyarakat Kota Malang, sebagai bagian dari agenda peduli wong cilik. Salah satu contohnya adalah bus sekolah yang diluncurkan pada era kepemimpinannya. Sehingga, Anton menyajikan tulisan pengantar berjudul “Bis Halokes Kebijakan Pro Pelajar di Kota Pendidikan”.

H. Sutiaji membahas seputar Kota Malang yang toleran dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan semangat Salam Satu Jiwa. Tokoh yang juga pernah menjabat Wawali ini juga menulis makna sambung sambang, kunjungan langsung ke warga untuk mengetahui langsung segala persoalan masyarakat. Lanjutnya, bagaimana menjaga keberlangsungan program yang bermanfaat dengan prinsip kaidah “Almuhafadhah ‘alal qodimissholih wal ahdu bil jadidil aslah” (melestarikan apa yang sudah baik dan berinovasi serta improvisasi terhadap hal yang mempunyai nilai kebaikan bagi masyarakat).

Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM selaku Pj Wali Kota Malang, membahas tentang bagaimana memimpin dengan kedekatan, melihat dengan utuh, mendengar dengan jelas, dan merasa dengan kepekaan. Baginya, kedekatan dengan rakyat serta realitas objektif di tengah-tengah masyarakat adalah jalan untuk menggali solusi memajukan Kota Malang yang tercinta. Masyarakat, bagi Pj yang juga pernah jabat Sekda Kab Malang ini, adalah konsumen yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Wahyu yang merupakan putra daerah ini, memilih judul populer “Kulihat, Kudengar, Kurasa (Mengemban dengan Panca Indera). Patut diapresiasi pada masa kepemimpinan Pj Wahyu budaya literasi internal pemda Kota Malang mulai dibangun dan dikembangkan sebagai bagian dari keselarasan dengan atmosfir kota pendidikan ini.

Baca Juga:  Jangan Lupakan Pembangunan Sishankamrata?

“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya sampaikan selamat kepada Gerakan Balaikota Malang yang telah berhasil menyusun buku ini dan menerbitkannya,” tulis Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, dalam Sambutannya dalam bagian awal buku.

Dikatakan, buku ini sangat penting dibaca oleh masyarakat Malang, khususnya generasi muda. Karena akan memberikan gambaran yang komprehensif tentang sejarah, budaya dan potensi Kota Malang. Diharapkan buku tersebut bermanfaat bagi dinamika perjalanan Kota Malang.

Dengan terbitnya buku ini diharapkan menjadi pendukung, penyemangat dalam rangka menggapai target kemajuan sesuai dengan tagline HUT 110, Berselaras untuk Kota Malang Berkelas. (Red2/la/wp). **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *