Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Sejarah

Busana atasan Nusantara masa Hindu – Buddha

700
×

Busana atasan Nusantara masa Hindu – Buddha

Sebarkan artikel ini

Suatu Gambaran Data Ikonografis

Oleh : M. Dwi Cahyono (Arkeolog dan Sejarahwan Nusantara)

A. Busana Atasan pada Masa Lampau

Dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “ote-ote”, dalam arti: tanpa mengenakan busana atasan alias bertelanjang dada. Penampilan yang demikian itu hingga beberapa dasawarsa lalu masih banyak dijumpai di Nusantara, bahkan pada sejumlah etnik kebiasaan demikian masih kedapatan hingga kini. Bertelanjang dada konon tak terkecuali hadir pada penampilan para wanita. Ada yang hanya kenakan bhra besar atau sama sekali no-brhra (tanpa BH). Apakah pada Masa Hindu-Buddha busana atasan telah dikenakan? Berikut lacakan pada tinggalan ikonografi dalam bentuk arca batu era Singhasari.

Pada masa lalu, tentu tak semua penampilan pria ataupun wanita bertelanjang dada. Data ikonografi (arca dan reluef) Masa Hindu-Buddha menunjukkan bahwa tak jarang pria dan wanita mengenakan busana atasan yang ketat atau terkadang tipis transparan — mengingatkan kita kepada kain sutra pada “baju bodo”, yang dalam pemahaman seringkali hanya diguriskan tipis, yang baru tampak bila diamati dengan cermat .Kadang pula digambarkan dengan cukup jelas pandang, dengan bentuk dan fungsinya menyerupai blouse saree dalam busana India. Pada properti seni perttunjukan Jawa, busana demikian mengingatkan kita pada “kotang ontokusumo” Adapun pada masa sekarang, ada kaos dalaman yang pres tubuh, dengan atau tanpa lengan pendek ketat, yang panjangnya hingga sekitar pusar, yang dinamai “manset”.

Baca Juga:  Ketua Prodi PGSD UMM, Bustanol Arifin Memberikan Tanggapan Aturan Bebas Skripsi

C. Data Arkeologis Busana Atasan Masa Singhasari

Arca Durga Mahisasuramardhini yang konon ditempatkan di bilik utara candi Singasari — kini menjadi benda koleksi Museum Leiden — misalnya, dengan jelas dipahat dengan kenakan busana atasan yang ketat serta beragam hias bunga-bungaan merekah. Busana yang berlengan pendek ketat setengah ruas tangan atas ini panjang tubuhnya hanya di atas pusar dan tanpa krah (disebut dengan ‘potong gulon’). Busana yang demikian itu acapkali dikenakan oleh para wanita India untuk melengkapi kain panjang (saree) yang dikenakannya. Pada umumnya dibuat belengan pendek ketat atau tanpa lengan, dan panjangnya hingga di atas pusar.

Bukan hanya wanita yang kenakan busana atasan demikian. Pria pun juga mengenakannya, seperti tergambar dalam arca Siwa Mahakala serta arca Siwa Nandiswara asal Candi Singhasari, yang kini juga menjadi benda koleksi Museum Leiden. Busa- ns atasannya itu juga dilengkapi dengan motif hias yang raya. Tergambar bahwa pada era Singhasari (abad XIII M.) Pria dan wanita tertentu mengenakan busana atasan. Ada kemungkinan busana atasan yang dikenakan oleh Durga, Siwa Mahakala serta Siwa Nandiswara itu adalah baju zirah (harnas, varman), yakni busana perang sebagai alat pelindung tubuh (khususnya dada) dari senjata lawan, sebab ketiganya hadir dalam konteks military. Aksesoris yang berupa elempang dada yang besar dan tebal, alung bawah yang juga besar, serta sabuk (bhanda) dibawah dada sekaligus berfungsi sebagai perangkat pelindung tubuh.

Baca Juga:  Kisah Mata Hari, Intel Wanita Berdarah Jawa Era Perang Dunia I yang Gemparkan Eropa

Kurang jelas apa bahan yang dipergunakan untuk membuat baju zirah itu, apakah kulit atau anyaman kawat-kawar baja kecil, malahan boleh jadi adalah kain sutra atau mungkin benang rajut. Pada Masa Hindu-Buddha busana atasan dari kain sutra buatan Cina atau benang rajut amat mahal harganya. Oleh jarena itulah, busana atasan hanya dikenakan pada acara resmi — semisal acara kenegaraan. Selain itu, kala itu teknik menjahit (dalam bentuk “menjarum’) untuk membuat baju tidak mudah. Lantaran itulah, dalam sehari-hari busana keseharian sangat boleh jadi hanya bertelanjang dada atau berkemul dengan selembar kain untuk mengurangi rasa dingin tubuh di nalam hari.

Baca Juga:  Musyawarah Anggota Komisariat Ke-XIII DPK GMNI Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Qolam Malang

C. Penampilan Payudara pada Lintas Masa

Pada era kerajaan Majapahit, busana atasan perempuan, yang semula menyerupai blouse saree India, digantikan dengan apa yang di dalam bahasa Jawa Baru dinamai “kemben”. Tradisi berkemben ini terus berlanjut hingga kini di Jawa dan Bali. Varian busana atasan perempuan lainnya adalah kebaya. Ada indikasi bahwa bhra (BH), yang bentuknya seperti setengah tempurung dan bertali juga turut dikenakan wanita Jawa Kuna. Jelaslah bahwa konon tak senantiasa wanita bertelanjang dada, terlebih lagi setelah Islam memasuki Nusantara, yang mengajarkan untuk mengenakan busana penutup aurat, utamanya payudara dan vulva. Kendatipun tanpa busana atasan, namun bukan berarti wanita masa lalu tampil dengan mengumbar aurat (payudara) nya, karena konsepsi religis mengenai penampilan organ tubuh berlainan antara satu agama dengan agama lain..

Demikian telaah ringkas mengenai busana atasan pada Masa Hindu-Buddha khususnya era kerajaan Singhasari dan Majapahit, sebagaimana tergambar pada tubggalalan ikonografis. Semoga menambah wawasan para pembaca budiman mengenai busana masa lampau di Nusantara Lama. Nuwun.

Sangkaling, 29 Desember 2022
Griyajar CITRALEKHA

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *