Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Pendidikan

Drama ‘Si Pitung Takut Sunat’ Meriahkan Program Pengembangan Pribadi Muslim Al Azhar

231
×

Drama ‘Si Pitung Takut Sunat’ Meriahkan Program Pengembangan Pribadi Muslim Al Azhar

Sebarkan artikel ini

Warta Press, Pendidikan (Jakarta, 2/3/2023) – SD Islam 1 Al Azhar Kebayoran Baru punya cara unik dalam mengembangkan kompetensi siswanya. Lewat program pengembangan pribadi muslim, karakter anak-anak dibentuk. Salah satunya melalui seni peran dengan memainkan drama Si Pitung Takut Sunat.

Mulai tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menerapkan Kurikulum Merdeka untuk murid Sekolah Dasar (SD). Kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Spirit yang sebenarnya sudah dimulai oleh beberapa sekolah di tanah air, bahkan sebelum Kurikulum Merdeka dicanangkan. Salah satunya adalah SD Islam 1 Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (SDIA 1 Al Azhar). Sekolah ini telah lama membuat sejumlah kegiatan intrakurikuler dengan pendekatan yang relevan dan menarik untuk anak didik. Diantaranya project based learning (PBL) berupa kegiatan rutin tahunan untuk mendukung pembelajaran.

Sebagai contoh, pada awal 2023 ini, SDIA 1 Al Azhar menggelar rangkaian kegiatan Assembly Grade sebagai perwujudan dari PBL tersebut. Kegiatan yang diisi dengan berbagai aktifitas untuk memperkenalkan budaya lokal Jakarta, yaitu budaya Betawi. Salah satunya pada Assembly Grade 1 untuk siswa kelas I, dimeriahkan dengan pentas drama bertajuk Si Pitung Takut Sunat.

Baca Juga:  Pelurusan Sejarah YPPTI Sunan Giri Lamongan

“Peristiwa penting dalam keluarga saat anak-anak usia SD adalah dikhitan. Banyak anak yang merasa takut dikhitan. Hal ini lalu kami kaitkan dengan pelajaran tematik iman dan taqwa atau imtaq. Kami kemas dalam drama agar pesan jangan takut dikhitan itu sampai ke anak-anak,” kata Wakil Kepala Sekolah SDIA 1 Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Noor Imanah, M.Pd.

Di panggung, cerita mengalir dari sosok Si Pitung yang diceritakan masih duduk di bangku kelas I SD. Melalui alur cerita yang dramatis dan terkadang mengundang senyum dan tawa orang tua siswa. Pitung yang semula takut disunat, akhirnya berani.

Acara General Assembly ini dilaksanakan di Aula Buya Hamka, SDIA 1 Al Azhar. 150 siswa berpartisipasi dan disaksikan tak kurang dari 300 orang tua murid. “Kakek-nenek dari siswa juga banyak yang hadir. Mereka senang dengan kegiatan bernuansa budaya,” papar Noor Imanah.

Tanggapan antusias juga datang dari siswa. Salah satunya, Nizam Abiyyu Rosyidi, siswa Kelas 1 yang ikut dalam pementasan drama Si Pitung Takut Sunat. “Seru ikut main dramanya. Sekarang jadi berani kalau mau disunat,” tukas Nizam.

Baca Juga:  Desakan Audit Forensik Dana Alumni UB Dinilai Relevan, Demi Transparansi

Menariknya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno turut memberikan sambutan di awal acara secara virtual. Sebagai alumni SDIA 1 Al Azhar, Sandi mengapresiasi acara yang mengangkat budaya lokal Jakarta.

Meski Sandi tak hadir langsung di sekolah, istri Sandi, Ny. Nur Asiah Uno tampak di Aula Buya Hamka. Mpok Nur, demikian ia biasa disapa, mengapresiasi pula kegiatan intrakurikuler ini. “Nilai-nilai agama, akhlak kesopanan, dan saling menghormati mutlak harus dimiliki anak-anak. Begitu pula dengan aktifitas untuk menumbuhkan kreatifitas dan kepercayaan diri dengan tampil berekspresi melalui seni peran, seni musik, seni tari. Itu bagus sekali,” tutur Mpok Nur.

Melalui kegiatan intrakurikuler yang dikemas dalam Program Pengembangan Pribadi Muslim inilah murid-murid SDIA 1 Al Azhar diasah pemahamannya dalam konsep dan kompetensi. Program yang kemudian menarik banyak sekolah lain. “Ya banyak sekolah lain yang datang kesini, untuk melakukan study tiru pada kurikulum kami, khususnya Pengembangan Pribadi Muslim,” kata Noor Imanah.

Baca Juga:  Pusat Studi Lingkungan Hidup LPPM UB Usulkan Inovasi Penanganan Pemukiman Kumuh di Kota Malang

Selain drama Pitung Takut Sunat, dihadirkan pula tahfiz Quran, pentas seni, dan presentasi tentang makanan dan budaya Betawi. “Sebentar lagi Lebaran, kita undang pembuat dodol Betawi, pembuat kerak telor, dan pembuat kue cubit khas Betawi,” ujar Noor Imanah.

Siswa pun bisa melihat dari dekat proses pembuatan menu tradisional tersebut dan bercakap-cakap dengan para pembuatnya. Salah seorang diantaranya adalah pembuat dodol Betawi dari Jagakarsa.

Di sela acara, Mpok Nur mengutarakan pengalamannya mengamati kegiatan di sekolah-sekolah internasional di Jakarta. Anak-anak ekspatriat justru antusias mencermati budaya-budaya Indonesia. “Inilah arti pentingnya kegiatan di sekolah mengangkat kecintaan budaya Indonesia. Jangan sampai suatu ketika nanti budaya kita justru diklaim oleh asing,” pungkas Mpok Nur.

SD Islam 1 Al Azhar merupakan sekolah swasta yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja No.1, Kebayoran Baru, SDIA 1 Al Azhar Kebayoran Baru merupakan pusat dari jejaring sekolah Al Azhar di seluruh Indonesia. **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *