Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Warta Dunia

Fenomena Baru yang Membuat Jepang Diambang Krisis Populasi

343
×

Fenomena Baru yang Membuat Jepang Diambang Krisis Populasi

Sebarkan artikel ini

Kepo Jepang: “Perubahan Pandangan” Menjadi Salah Satu Alasan Orang Jepang Menunda Menikah

WartaPress, Narasi – Negara Jepang kini sedang terancam krisis populasi di masa depan. Pertumbuhan penduduk, angka kelahiran semakin merosot, dan ini menimbulkan kekhawatiran serius pemerintah berpenduduk 125 jita jiwa tersebut.

Mengutip laporan Japan Today, Jumat (2/6/2023) Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida diketahui merencanakan akan mengeluarkan dana hingga 3,5 triliun Yen atau sekitar Rp 378 triliun sebagai salah satu solusi mengatasi krisis kelahiran tersebut.

Ada ulasan menarik tentang perubahan mindset orang Jepang modern tentang pernikahan, dapat menjadi informasi penting awal mula munculnya fenomena krisis populasi di Jepang. Yaitu artikel di situs KepoJepang.Com, web yang dikelola oleh para penulis muda seperti Ayu Sakamoto, Satomi Suzuki dan rekan-rekan penulisnya yang berasal dari Indonesia.

Menurut tulisan dari web tersebut, rata-rata umur orang Jepang menikah berusia 31.1 tahun untuk pria dan untuk wanita sekitar 29.4 tahun (2019). Dengan kata lain, bagi orang Jepang menikah di usia 20-an itu dianggap terlalu dini.

Trennya, dari tahun ke tahun, orang-orang Jepang yang memutuskan untuk tidak menikah pun semakin meningkat, pria sekitar 23.4% dan wanita sekitar 14.1%. Akan tetapi, ketika ditanyakan soal pernikahan kepada para lajang yang berusia 20-an dan 30-an, banyak yang menjawab “Saya ingin menikah nanti”.

Baca Juga:  Gencatan Senjata Alot, Barter Sandera Hamas dengan Israel Masih Buntu

Menurutnya, selama ini, Jepang memiliki pandangan bahwa seseorang harus menikah di umur tertentu, kemudian setelah menikah memiliki anak dan sebagainya. Oleh karena itu, keluarga yang memiliki anak perempuan dan laki-laki yang cukup umur untuk menikah akan mencarikan pasangan melalui kenalan mereka dan mengatur “omiai, perjodohan”. Namun, beberapa tahun terakhir, sudah jarang sekali sesama orang tua merencanakan perjodohan untuk anak mereka. Saat ini pernikahan lebih banyak dilandasi karena hubungan atau rasa cinta antara pria dan wanita yang dipertemukan secara alami.

Dengan begitu, pemikiran dan pandangan tentang keharusan menikah di usia tertentu atau harus menikah sekali seumur hidup pun mengalami perubahan.

Mulai banyak orang yang berpikir, selagi masih muda, uang yang didapatkan lebih baik dinikmati oleh diri sendiri, menikah bisa dilakukan kapan saja tidak masalah walaupun sudah berumur. Ditambah orang tua yang menolak pemikiran-pemikiran lama pun semakin bertambah.

Bagi mereka yang bekerja di tempat yang karyawannya hanya pria atau wanita saja dan tidak memiliki kegiatan sosial di luar kantor, atau mereka yang di bekerja di perusahaan yang sama dalam waktu lama dan hanya berhubungan dengan orang yang itu-itu saja, alasan mereka tidak menikah adalah “Tidak ada kesempatan bertemu lawan jenis”. Selain itu, beberapa dari mereka beralasan tidak memiliki ketertarikan pada percintaan setelah beranjak dewasa atau berpikir jika berhubungan dengan lawan jenis akan menimbulkan permasalahan yang tidak diinginkan.

Baca Juga:  Ayu Sakamoto Berbagi Cerita pada yang Kepo Jepang: ada Kontrakan Seperti Kosan Mahasiswa

Dahulu, sesama orang tua mengatur perjodohan dan memaksa pernikahan tanpa memikirkan keinginan atau kepribadian orang yang bersangkutan. Tetapi sekarang, karena mencari pasangan harus dilakukan oleh kita sendiri, mereka yang tidak tertarik akan percintaan atau yang kaku ketika bertemu lawan jenis tidak akan berusaha mencari kekasih. Akan lebih sulit lagi jika bekerja di tempat yang lawan jenisnya sedikit. Karena hal itulah, baik pria maupun wanita sudah terlalu berumur jika mereka berusaha mencari pasangan.

Di Jepang, beberapa tahun terakhir ini perempuan semakin maju dalam hal pekerjaan. Dulu, hal yang wajar adalah “Pria setelah lulus kuliah, bekerja sampai waktu pensiun datang” dan “Wanita sewajarnya berhenti bekerja setelah menikah”, tetapi sekarang semuanya sudah berbeda. Semakin banyak wanita yang terus bekerja karena ingin terus memberikan kontribusi bagi masyarakat, atau hanya karena mencintai pekerjaannya atau bekerja dengan alasan keuangan. Semakin banyak juga wanita yang mengincar posisi-posisi tinggi layaknya pria seperti manajer atau badan eksekutif.

Baca Juga:  Dua Negara Musuh Bebuyutan AS Perkuat Kerjasama Migas

Walaupun di Jepang berlaku cuti melahirkan dan membesarkan anak, banyak wanita yang mengkhawatirkan cuti tersebut akan mengganggu pekerjaan mereka. Mereka berpendapat bahwa mereka “tidak ingin terganggu karena pekerjaan ini menyenangkan” atau “tidak ingin berhenti ketika saya baru mulai bekerja”, hal-hal ini menjadi alasan mereka untuk tidak menikah di usia 20-an.

Persepsi mengenai kesetaraan gender dalam berbagai situasi mendorong wanita untuk semakin aktif dalam kehidupan sosial, dibandingkan pemikiran lama seperti “Setelah menikah saya akan berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga” lebih banyak wanita yang berpikiran “Saya akan menikah jika diizinkan terus bekerja” atau “Saya ingin menikah dengan seseorang yang bisa saling menghormati dan menghargai”, wanita yang menginginkan hubungan yang setara antar pasangan semakin meningkat.

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan paradigma anak-anak muda Jepang, yang semakin mandiri dalam menentukan masa depannya (terutama dalam hal keputusan menikah), kesetaraam gender yang kian meningkat, serta budaya kerja yang kuat telah merubah keadaan: tren perkawinan menurun, angka kelahiran merosot dan Jepang diambang krisis demografi. (kj/ed-wp). **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *