Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Tokoh

Kiprah H. Ansar Suryohadibroto, Tokoh Penjembatan antara Pendidikan Pesantren – Pendidikan Formal

224
×

Kiprah H. Ansar Suryohadibroto, Tokoh Penjembatan antara Pendidikan Pesantren – Pendidikan Formal

Sebarkan artikel ini

WartaPressCom, (Tokoh Pendidikan/ LTPL MLG) – Tokoh asal Jawa Timur memiliki banyak peranan dan berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, khususnya bagi lahirnya berbagai lembaga pendidikan islam.

Antara lain adalah, H. Ansar Suryohadibroto yang merupakan pahlawan pendidikan pada masanya. Beliau banyak berperan besar dalam pendidikan di Indonesia. Terutama meratakan tingkat pendidikan non formal pesantren dengan sekolah formal. Beliau merupakan anak kedua dari pasangan Tahar Arsadiwirya dan istri.

Diulas di pesantrenluhur.or.id, beliau lahir di Bondowoso, Jawa Timur, tanggal 22 November 1906 dan wafat pada tahun 1973. Beliau merupakan keturunan dari Bupati pertama Bondowoso yaitu Ki Ronggo, dan ibunya berasal dari keluarga Al-Habsyi (generasi ke 3 di Nusantara ) dari Yaman, namun asalnya dari Ethiopia. Beliau menikah dengan Eyang Murti (Roro Murti) yang merupakan keturunan Bupati Blitar ketiga yang meninggal tahun 1961 akibat kecelakaan. Pernikahan beliau dikaruniai 4 anak yakni Sri Handini, Badariyah Ari Saparin, Yekti Sri Sriami, dan Chairul Imam. Kemudian beliau menikah kembali dengan janda anak 5 bernama Ratizar yang merupakan orang Padang.

Baca Juga:  Cerita "Kesombongan Alternatif" Sarwono Kusumaatmadja

Beliau merupakan jejaka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi pada masanya. Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Rakyat kemudian lanjut ke sekolah Belanda di Yogyakarta hingga pendidikan setingkat SMA yang dikhususkan untuk menjadi guru. Meskipun tidak mengenyam pendidikan pesantren, beliau tetap mendapatkan pemahaman agama dari lingkungan keluarga yang taat. Beliau pernah berjuang sebagai guru, menjabat sebagai Kakanwil Departemen Agama se-Karesidenan Jawa, Madura, dan Bali pada tahun 1940 sampai 1950 an. Kemudian menjadi Sekjen dan Dirjen Departemen Agama, dan mendirikan beberapa Universitas Islam di Indonesia pada masa Menteri Agama RI K.H. Saifuddin Zuhri, sampai masa Menteri Prof. KH. Abdul Mukti Ali dan menetap di Jakarta.

Pertemuan dua orang hebat yang menjunjung tinggi masa depan Pendidikan di Indonesia, siapa sangka, takdir yang mempertemukan 2 orang hebat dalam satu keluarga, yaitu Prof. Dr. H.M. Koesnoe yang merupakan seorang Tokoh Pendidikan Nasional sekaligus menantu H. Ansar Suryohadibroto. Karena beliau seorang yang moderat beliau sering berdiskusi  di rumah hingga larut malam membahas mengenai pendidikan yang Indonesia. Juga keduanya merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam pendidikan di Indonesia. Sang menantu yang mengembangkan pendidikan di UNISMA dan UIN Malang. Juga sempat mengajar hukum dan filsafat di UB dan UM. Sedangkan beliau H. Ansar Suryohadibroto mengembangkan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah, juga pernah menjabat sebagai ketua LP Ma’arif NU (Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama). Ketika berkiprah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beliau mengirim dosen ke luar negeri seperti Michigan AS dan Colombia pada tahun 1960-an untuk belajar di sana.

Baca Juga:  Papua Tengah: Melangkah Menuju Perdamaian Bersama Keragaman Suku

Menyamaratakan Kurikulum Pesantren dengan kurikulum sekolah biasa.
Pada masa itu, pesantren hanya terbatas pada pendidikan salafi tanpa adanya kurikulum pendidikan secara formal. Alumnus pesantren hanya bisa melanjutkan ke Timur tengah atau terus mondok dan hanya belajar masalah bidang keagamaan. Maka, ketika menjadi pimpinan di Depag, beliau membuat santri Pondok Pesantren bisa berkuliah di Universitas umum seperti: kedokteran, teknik, dll. Beliau juga mendirikan PGA (Pendidikan Guru Agama) yang tersebar di Indonesia dibawah pengawasan Jawatan Pendidikan Agama Departemen Agama pada masa orde lama.

Baca Juga:  Komedian Komeng yang Raih Suara Tertinggi Calon DPD RI di Jawa Barat, Ternyata Alumni HMI

Ansar Suryohadibroto adalah pribadi yang sabar dan tegas. Perawakan beliau tinggi besar tidak menampakkan pribadi yang kasar dan keras. Beliau adalah sosok kakek yang baik di mata cucunya. Beliau meninggal di Jakarta setelah menunaikan sholat subuh ketika hendak ke kamar mandi.

“Kung itu sering tidur larut untuk diskusi mengenai pendidikan dan sering bangun malam untuk sholat tahajud dan dzikir, kemudian yang khas dan jadi kerinduan bagi tetangga sekitar adalah suara bersin beliau yang keras dan khas,” Kenang bu dr. Illy, cucu beliau, putri Prof. Dr. H.M. Koesnoe, ketika wawancara dengan LTPL Malang beberapa waktu lalu. (ltpl_mlg/ed-wp). **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *