Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Suara PemudaWarta KampusWarta Muda

Kolaborasi Gen-Z Indonesia: Milenialis & Generasi-Z Pemegang Obor Indonesia Emas 2045

438
×

Kolaborasi Gen-Z Indonesia: Milenialis & Generasi-Z Pemegang Obor Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

Puspita Saras kutip Greta: No one is too small to make a differences

WartaPress, Malang JATIM – Narasi tentang anak muda tidak habisnya dibahas di tengah kian hangatnya atmosfir demokrasi menuju “tahun politik” 2024, yang ikut menentukan arah pembangunan bangsa ke depannya.

Mahasiswi yang juga Inisiator Kolaborasi Gen-Z Indonesia, Pita Puspita Saraswati, menyebutkan melalui rilisnya, Kamis (6/7/2023), tentang “Peran generasi Milenial dan Gen-Z menyambut pesta demokrasi, dan era bonus demografi”, bahwa kaum milenial dan generasi-Z bakal menjadi pemeran utama di era bonus demografi yang terjadi pada kisaran antara tahun 2035-2050.

“Pada masa itu nanti, anak-anak milenial dan GenZ yang jumlahnya mayoritas ini, sudah tumbuh dewasa, produktif dan menjadi penggerak semua sektor,” tutur Fita Saras, sapaan akrab cewek kelahiran 1999 yang juga mahasiswi FIA salah satu PTS terkemuka di Kota Malang ini.

Baca Juga:  Kiprah Rumah Prestasi Glintung Go Green, Gerakan Holistik Membangun Kampung di Era Society 5.0

Katanya, saat ini kelompok generasi muda diibaratkan menjadi pembawa obor, barisan terdepan perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Dalam perjalanan itu, lanjutnya, anak muda hendaknya berani berinovasi untuk membuat perubahan, meskipun harus keluar dari zona nyaman.

‘No one is too small to make a differences’ tulis Saras mengutip kata-kata aktivis remaja Greta Thunberg yang mendunia. Bahwa tidak ada istilah terlalu muda untuk membuat perubahan. Justru, setiap perubahan sosial pada setiap zaman digerakkan oleh anak-anak muda.

Baca Juga:  Saras Komunitas Milenial Mbois Bilang Dualisme KNPI Kabupaten Malang "Bonus Demokrasi"

“Sepanjang milenialis-GenZ punya kesadaran membangun SDM, menjaga nasionalisme dan mampu beradaptasi dengan era baru society 5.0, saya yakin cita-cita Indonesia Emas 2045 akan terwujud,” pungkas Pita Puspita Saraswati, yang juga dikenal sebagai kader GMNI yang sudah mengikuti jenjang Kaderisasi Tingkat Menengah (KTM) ini.

Sementara peneliti Litbang Warta Press Netwok (WPN), Afrianus A. Kadha., S.Sos., M.AP., memaparkan terdapat ciri khas pemuda milenial genZ ini yang membedakannya dengan generasi sebelumnya.

Misalnya “budaya” nongkrong, “ngopi” dalam grup-grup pergaulan, diskusi kelompok tugas-tugas akademik di ruang publik dan kafe dan lainnya, adalah bentuk style kolektifitas gaya baru dimana mereka dapat saling berinteraksi satu sama lain secara intens.

Baca Juga:  Menjelang Raker, Pemuda Katolik Merauke Sampaikan Siap Bersinergi dengan Semua Elemen

“Di tempat-tempat nongkrong dan acara ngopi itu mereka justru saling berbaur, ruang yang fleksible untuk membangun perkawanan hingga berorganisasi,” katanya.

Sehingga, kata alumnus Pasca Sarjana UB ini, dapat dilihat bahwa anak muda masa kini lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman, luwes, kolaboratif, gembira, menyukai keseimbangan dan melek informasi.

“Siklus kebangkitan kaum muda untuk membangun bangsa yang besar, bisa jadi akan terjadi pada masa bonus demografi nanti, yang dimotori anak-anak muda saat ini,” tutupnya. (Red1/lam/wp). **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *