Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Sejarah

Lacak Data Epigrafis “Akar Yajna Kasada”

183
×

Lacak Data Epigrafis “Akar Yajna Kasada”

Sebarkan artikel ini

Oleh : M. Dwi Cahyono (Arkeolog – sejarahwan Nusantara)

Salah sebuah sumber data, tepatnya sumber data tekstual berwujud epigrafis mengenai ritus tahunan Kesodo (yajna Kasada) adalah Prasasti Muncang bertarikh Saka 866 (3 Maret 944) asal dari Dusun Walandit di Desa Wonorejo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.

Setelah beberapa kali alih tempat tempat (relokasi), yaitu dari Desa Wonorejo ke hajatan Rumah Rumah Dinas Asisten Residen (kini menjadi Kantor Pos Kota Malang), kemudian dipindahkan ke halaman Brandweer (Gedung Pemadam Kebakaran), lalu diwabawa ke rumah tinggal pensiunan Dinas Kebakaran di Kelurahan Sukun, sempat dibawa ke Tugu Park Hotel, dan berikutnya hingga  sekarang menjadi salah satu benda koleksi Museum Mpu Purwa Kota Malang. Meski muasalnya dari wilayah Kabupaten Malang, namun, karena telah sejak Mada Hindia-Belanda di relokasi ke wilayah Kota  Malang, maka prasasti batu (linggo prasasti) inipun menjadi Cagar Budaya (CB) Kota Malang.

Prasasti Muncang (kata “muncang” berarti: kemiri, yang mengingatkan pada nama Desa Kemiri, sebagai tetangga desa Wonorejo) menginfokan tentang penetapan desa (wanwa) Muncang sebagai “Desa Perdikan (Sima, Swatantra)” sebagai anugerah istimewa (waranugraha) dari raja Isana (Mpu Sindok) terkait dengan penyelenggaraan ritus pemujaan kepada Sang Hyang Swayambhu (Swayambuwa, yakni suatu sebutan untuk Dewa Brama sebagai Dewa Api, yang dalam konteks eko-religisnya adalah Dewata yang yang menaungi gunung berapi Tengger atau Bromo) pada bangunan suci (mahaprasadha kebyaktyan) di Walandit. Pemujaan pada Bhattara di Walandit dengan melakukan persembahan bunga setiap tahun juga diberitakan Prasasti Linggasuntan (929 Masehi) yang ditemukan di Dusun Lokjati (Lowok Jati) Desa Baturetno, yakni tetangga Desa Wonorejo.

Baca Juga:  Hasil Riset, Istana Giri Kedaton Tempat "Pengukuhan" Raja-Raja Jawa Abad 15-17

Perihal pemujaan kepada Gunung Suci Brama juga diberitakan dalam Prasasti Panjakan dari era pemerintahan Majapahit, yang dilakukan setiap tahun di  ulan Asada (varian sebutan “Kasada”). Para pemuja Gunung Suci Brama tersenut bermukim di Walandit, Jebing, Kacaba, Mamanggis dan Lili, yang msnska- la mereka tengah melakukan ritual pemujaan pada Gunung Suci Brama tiap bulan Asada, petugas pe- narik pajak (mangilaladrawyahaji) dilarang untuk  memasuki kelima desa itu untuk menarik pajak di bulan mati (titiloman). Tergambarlah jelas bahwa ritus (yajna) Kasada yang berpusat di Gunung Api Bromo, yang dilakukan hingga sekarang oleh Wong Tengger memiliki “akar sejarah” sejak era pemerin- tahan Isana pada paroh pertama abad X, dan terus berlanjut hingga Majapahit. Desa kuno Walandit kini menjadi Dusun Blandit di Desa Wonorejo, desa Kuno Jebing boleh jadi kini dinamai “Jabung”, dan Mamanggis menjadi Dusun Manggis di Desa Srigading, tetangga Desa Baturetno. Pada tahun ini (2022) berhasil diekskavasi reruntuhan candi era Istana di Desa Srigading, yang boleh jadi merupakan Prasadha Kabhatyan di Lunggasuntan untuk memuja Bhattara i Walandit.

Baca Juga:  Musical-Dance Era Imperium Mataram dalam Kajian Sejarahwan

Ketika ada rencana baik dari “Taman Nasional (TN) Bromo – Tengger – Semeru (BTS)” untuk membuat video semi-dokumenter tentang salah satu kekayaan budaya Tengger, yakni ritus Kesodo, dan menjadikan saya sebagai salah seorang Nara Sumbernya, maka saya pun mengajak tim visual TN BTS itu ke Museum Mpu Purwa — tempat dimana prasasti batu Muncang (944 Masehi) disimpan sebagai benda koleksinya.

Baca Juga:  Jejak Kamp Konsentrasi Boven Digoel yang Melegenda

Prasasti Muncang adalah satu diantara tiga prasasti penting yang memuat informasi berkenaan dengan akar ritus Kasada — selain Prasasti Linggasuntan (929 Masehi) dan prasasti tembaga Pananuakan dari era keemasan Majapahit. Diantara ketiga prasasti itu, yang kini terdapat di daerah Malang adalah Prasasti Muncang di Museum Mpu Purwa, sedangkan Prasasti Linggasuntan menjadi benda koleksi Museum Nasional di Jakart, dan prasasti Pananjakan menjadi benda koleksi di museum provinsi “Pu Tantular” di Sidoarjo. 

Semogalah Vido semi-dokumenter mengenai Yajna Kasada menjadi karya videografis yang bukan saja elok secara estetis, namun sekaligus akurat secara informatif. Jika telah jadi nanti, diharapkan bisa “dibedah” dalam suatu diskusi publik, sehingga akar sejarah Yajna Kasada dapat diungkapkan dan jejak “Wong Tengger Mula” pada lerang selatan dan barat Gunung Tengger di wilayah Kabupaten Malang terinformasikan ke publik. Nuwun.

Museum Mpu Purwa, (12-22-2022)
Bhaktavidya CITRALEKHA.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *