Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Narasi

Membaca Simbolisasi Ketupat Dalam Tradisi Kupatan Masyarakat Jawa

276
×

Membaca Simbolisasi Ketupat Dalam Tradisi Kupatan Masyarakat Jawa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Khoirul Mudaib, Alumni Fakultas Hukum Universitas Putra Bangsa Surabaya, dan alumni Fakultas Syari’ah UIN Mataram.

Tradisi kupatan merupakan sebuah Budaya yg tak lekang oleh zaman dan tetap terjaga hingga saat ini dalam masyarakat jawa. Kata Kupat secara filosofis merupakan akronim (Kiroto Boso) yang berarti “ngaku lepat” (mengaku salah).

Di dalam Mayarakat Jawa, terdapat banyak hal yang dilambangkan dengan simbol yang padat dengan makna dan filosofi tidak terkecuali kupat, dengan akronim kata ngaku lepat sebagai pengingat bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sehingga melalui tradisi ini diingatkan untuk saling mengakui kesalahan dan meminta maaf satu dengan yang lain.

Begitupun dari bahan yang digunakan untuk membuat kupat tidak terlepas dari nilai filosofi didalamnya. Kupat terbuat dari janur yang dapat diartikan dari akronim kata (Kiroto Boso) jatine nur (nur yang sejati)atau bisa juga “janana nur”. Janana berarti manusia dan nur berarti cahaya dan bisa juga diartikan ja’a nur “ja’a wus temeko, nur cahyo” atau datangnya cahaya. Sehingga dimaksudkan orang yang telah menyadari kesalahan dalam hidupnya dan memperbaikinya kemudian menjaga diri dari kesalahannya akan mendapatkan cahaya kehidupan yang terang benderang.

Kupat diisi dengan beras yang merupakan simbol dari sri sedowo dan joko deno dapat diartikan sebagai lambang kasih sayang dan harmonisasi. Terselip makna bahwa dalam kehidupan kita sebagai manusia hendaklah senantiasa menebarkan kasih sayang dan menjaga harmonisasi.

Baca Juga:  Strategi Main Agresif (dalam Sepak Bola)

Dari segi bentuk kupat berbentuk persegi empat yang melambangkan kelibat papat atau empat penjuru mata angin dalam pandangan kosmologi jawa juga dikenal sedulur papat yaitu kakang kawah, adi ari – ari, getih dan tali pusar yang selalu menyertai manusia sejak dalam kandungan.

Jika ditransformasikan dalam ajaran Islam dikenal juga empat analisir pembentuk manusia dari sisi kausaprimanya yaitu air, tanah, api dan angin. Terdapat empat nafsu yang melekat pada diri manusia yaitu nafsu sufi’ah, laumammah, amarah dan mutmainnah yang perlu dikelola dengan proporsional dan seimbang agar tetap kukuh sebagai manusia dengan kelebihan dan kesempurnaan yang telah Alloh Ciptakan.

Kupat dibuat dari dua janur yang dianyam sedemikian rumit dengan berbagai lipatan yang tumpang tindih, berkelok dan terpuntir. Hal ini diibaratkan sebagaimana perjalanan hidup manusia dengan berbagai macam problematikanya masing – masing sehingga kesahan tidak mungkin luput dari perjalanan hidup manusia. Kesalahan yang mungkin disengaja dan dalam keadaan sadar melakukannya ataupun kesahan karena keteledoran manusia.

Namun dari kedua janur yang dianyam tersebut akan tetap bertemu ujung janur dengan ujung begitu juga dengan pangkal janurpun bertemu dengan pangkal yang dapat diartikan setiap perjalanan kehidupan manusia dengan berbagai lika – likunya akan bertemu pada titik dan muara yang sama.

Baca Juga:  Kontroversi di Balik Politisasi Program KIP Kuliah oleh Anggota DPR: Antara Manfaat dan Risiko

Simbol kesucian hati akan terlihat ketika kupat dibuka atau dibelah warna putih bersih akan nampak sebagai cerminan kesucian dan kebersihan hati setelah sebulan penuh melakukan puasa dan meminta maaf kepada sesama di hari raya fitri.

Ketika diperhatikan lebih lanjut kupat memiliki enam sudut yang melambangkan enam hari puasa syawal sehingga kupatan biasa dilakukan setelah hari ketujuh lebaran, yang sering disebut riroyo kupat (kupatan) setelah enam hari puasa sunnah syawal.

Selain itu terdapat maksud yang jarang di ketahui orang mengapa kupatan dilaksanakan dihari ketujuh lebaran, itu karena kupat dengan tekstrur yang lebih lembut dari nasi putih biasa dan proses memasak yang lama ternyata akan lebih memudahkan dan meringankan alat pencernaan sehingga makan kupat berfungsi sebagai penghilang rasa capek penat lesu setelah tujuh hari melaksanakan anjang sana kerumah sanak keluarga, dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah ngelencer.

Bentuk persegi empat dari kupat juga bisa diartikan laku papat atau empat tindakan yang masih berhubungan erat dengan perayaan lebaran idul fitri. Laku papat ini yaitu lebaran, leburan, luberan dan laburan.

Keempat tindakan atau laku ini yang pertama ‘lebaran’ memiliki asal kata lebar yang berarti luas, lapang, longgar atau luang sehingga lebaran sebagai laku atau tindakan bermakna melapangkan dada, meluangkan waktu, melonggarkan segala beban untuk berkunjung kesanak keluarga, sahabat dan kolega untuk mempererat tali silaturrahmi dan menjaga hubungan keluarga agar tidak terputus.

Baca Juga:  Refleksi HUT 109 Kota Malang; Kota Bersejarah, Pusat Pendidikan, dan Turut Menyukseskan Indonesia Emas 2045

Yang kedua ‘leburan’ berasal dari kata lebur yang berarti habis. Leburnya dosa yang telah dilakukakan karna sebulan penuh melakukan puasa dan leburnya dosa antar sesama dengan saling maaf memaafkan antra yang satu dengan yang lain. Yang ketiga ‘luberan’ berasal dari kata luber yang berarti meluap atau tumpah, dengan berbagi rizki sebagai ungkapan rasa syukur dan kasih sayang antar sesama.

Terakhir, keempat ‘laburan’ berasal dari kata labur atau kapur, berwarna putih bersih. Hilangnya semua kotoran yang ada di hati seperti permusahan, dendam, iri hati dengki, curiga dan sebagainya. Diharapakan setelah laburan hati menjadi putih bersih dan selalu menjaga kesucian hati dan prilaku yang baik.

Tradisi kupatan juga ditafsirkan dengan kata kaffatan dari bahasa arab yang berarti kesempurnaan sebagimana manusia terlahir kembali dalam keadaan yang fitri. Kata Kaffatan di adopsi menjadi kata kupatan dalam logat jawa.

Taqobblallahuminnawamingkum takobbal yaa karim.

“Pak Surono klelekan ondo
Ono cecak nguntal gapuro
Iki ono dino riroyo
Sedoyo lepat nyuwun ngapuro.”

Minal Aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin, 7 syawal 1444 H. (*).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *