Scroll ke bawah untuk membaca post
Example floating
Example floating
NarasiSejarah

Sejarah Mughal Empire, Pendiri Taj Mahal dari Klan “Mongolia Hijau”

269
×

Sejarah Mughal Empire, Pendiri Taj Mahal dari Klan “Mongolia Hijau”

Sebarkan artikel ini

Leluhurnya Pernah Takluk di Nusantara

Warta Press, Kajian Sejarah – Siapa sejarahwan yang tak mengenal Kesultanan Mughal (atau Kerajaan Mogul)? Inilah salah satu mega-imperium yang pernah merajai daratan “keras” India utara, Pakistan, Afghanistan, Khasmir, Bangladesh dan berapa wilayah sekitarnya.

Kerajaan Islam Mughal inilah yang mendirikan Taj Mahal yang megah, ketika mereka sudah menguasai negeri Hindustan itu berabad-abad lamanya. Mahakarya arsitektur Mughal hingga kini menjadi ikon wisata utama negara India modern.

Sekilas Sejarah Kerajaan Mughal

PADA pertengahan abad 16 masehi, negeri Hindustan utara yang luas sedang dikuasai oleh kekuasaan feodal India dari klan-klan imperium tua bangsa Rajput; raja-raja lokal yang sangat taat pada budaya asli dan memegang teguh prinsip primordialnya. Antara kerajaan tersebut umumnya memiliki ikatan darah dan melakukan perkawinan silang untuk mengukuhkan perdamaian kawasan.

Melihat mapannya tatanan Hindu dan budaya India yang kaya, maka sulit dipahami jika kemudian sebuah kekuasaan bernuansa Padang Pasir terbit mengambil alih kedaulatan politik – ekonomi Rajput (tapi tidak memaklumatkan penaklukan agama dan kebudayaan).

Ya, Mughal meskipun Kesultanan syar’i yang terkenal konservatif dan keras, tapi dalam hal pilihan agama yang dianut masyarakat India mereka tidak ikut campur. Rakyat dibiarkan bebas memilih ajaran sesuai keyakinan, dengan catatan: tidak menentang penerapan prinsip hukum syariah kerajaan Mughal yang telah disesuaikan dengan hukum Rajput.

Mughal adalah sebuah kerajaan yang relatif muda (berdiri tahun 1526) dibandingkan dengan imperium – imperium di Nusantara yang jauh lebih kuno. Mughal merupakan turunan dari kekaisaran amat besar di masa lampau, yaitu Kekaisaran Mongolia yang berjaya abad 13. Leluhur mereka adalah para Ksatria “faksi hijau” dari Mongolia yang berbasis tentara muslim. Sudah menjadi tradisi politik luar negri Mongolia: tidak mengintervensi keyakinan masyarakat, sehingga Mongol mudah diterima di bangsa-bangsa yang taat memegang teguh prinsip keagamaan.

Kelahiran Mughal pastilah mendapat sokongan dari jejaring sisa-sisa kekuasaan Mongolia yang tumbang penghujung abad 13 sebelumnya, tapi wuri-wurinya tersebar di berbagai belahan bumi yang pernah dikuasainya.

Para pendekar Mughal Empire yang mewarisi darah perang leluhurnya yang militan dan keras, berhasil menaklukkan India mulai dari ujung utara. Kemudian memindahkan ibukotanya dari Delhi ke kota Agra yang merupakan basis Hindustan yang taat pada ajaran budaya leluhurnya.

Agra berada dalam genggaman Mughal dan menekuk seluruh kerajaan-kerajaan lokal. Monarki absolut yang baru bangkit dari kekalahan sebelumnya dari kerajaan Sur Delhi ini mencaplok distrik-distrik kekuasaan kerajaan Hindu lainnya dengan cita-cita India Raya berada di bawah satu panji Kesultanan Mughal.

Leluhur Kerajaan Mughal dan Ekspansinya ke Jawa

Kerajaan ini mewarisi semangat leluhurnya seperti Jengis Khan dan Kubilai Khan (Kaisar Mongolia) yang pernah menjajah Jepang, Korea, Thailand, Myanmar, Vietnam, Filipina dan Cina. Leluhur Mughal, Kekaisaran Mongolia ketika dibawah pemerintahan Kaisar Kubilai Khan (penerus Jengis Khan) abad 13 merupakan imperium terbesar dalam sejarah yang memiliki wilayah jajahan terluas di dunia. Kekuasaannya meliputi Asia, Timur tengah, Tiongkok, Persia dan perbatasan Eropa.

Setelah berhasil menaklukkan Korea dan Jepang, Mongol mencoba merebut jalur sutra dagang selat Malaka dan perairan Natuna yang kala itu berada di bawah perlindungan Maharaja Kertanegara dari Singhasari (Malang) Jawa Timur. Kala itu masa keemasan Sriwijaya dan Mataram lama sudah pudar. Arus dagang maritim nusantara berada dalam patroli militer Singhasari.

Dinasti besar Syailendra dan Sanjaya yang pernah membangun Candi Prambanan dan Borobudur sudah lama lengser setelah pertikaian politik terus menerus antara Syailendra – Sanjaya, Balitung dan klan Dyah Wawa, bersamaan dengan letusan Merapi (Mahapralaya). Pejabat tinggi keraton Mataram kuno Mpu Sendok kemudian membangun dinasti baru tahun 929 di Jawa Timur (Medang Kemulan di Tamwlang). Dinasti ini bertahan lebih dari 2 abad dengan raja-raja terkenal seperti Airlangga dan Joyoboyo.

Tahun 1222 dinasti Mpu Sendok (raja terakhirnya Kertajaya) tumbang dikudeta oleh Ken Arok (dalam perang Ganter). Arok yang disokong oleh Brahmana-Brahmana Syiwa lulusan Biara India (seperti Danghyang Guru Lohgawe) lalu mendirikan kerajaan Singhasari. Singhasari mengalami puncak kejayaannya pada era raja Kertanegara. Kerajaan pedalaman yang pertama kali mencetuskan doktrin “Cakrawala Mandala Nuswantara” ini adalah bintang politik pada masa itu, terutama sejak diplomasi Pamalayu-nya berhasil (1287) membangun persekutuan politik antara Jawa – Bali – Borneo – Sumatera untuk membendung pengaruh Kaisar Kubilai Khan. Majapahit belum lahir.

Kaisar Mongol mengirim diplomat yang bernama Mengkhi Khan ke Singhasari pada tahun 1289 untuk meminta Nusantara tunduk pada imperium Mongolia dengan kewajiban pajak/upeti sebagai negara bawahan. Namun raja Kertanegara menjawab dengan memotong telinga Mengki Khan sebagai bentuk penolakan keras dan tantangan perang.

Penguasa Bangsa Mongol yang kala itu sudah tuntas menguasai daratan Tiongkok dan memindahkan pusat kerajaannya di Beijing sangatlah murka. Dia lalu bertitah akan memberi pelajaran ke Singhasari dengan tradisi rezim Mongol: agresi militer.

Armada perang besar Kekaisaran Mongolia berlayar dan tiba di pantai utara Jawa Timur akhir tahun 1293. Diluar dugaan terjadi kudeta di Istana Singhasari yang dilakukan Jayakatwang, keturunan klan Mpu Sendok yang selama ini menjadi Adipati bawahan raja. Jayakatwang memanfaatkan situasi istana yang tengah sibuk membangun poros militer laut dan menghadapi ancaman Mongol. Raja Kertanegara tewas. Beberapa petinggi istana berhasil meloloskan diri ke hutan dan sebagaian lari ke arah pantura. Jayakatwang menyatakan diri sebagai Raja baru dan memindahkan istana ke tempat asalnya, Dahanapura Kediri.

Baca Juga:  Kongres HMI XXXII di Pontianak: Pertarungan Gagasan dan Kepentingan Elit

Pasukan Mongol mendarat. Menerima kabar kematian Kertanegara yang dincarnya. Pihak pemberi kabar, petinggi istana Singhasari yang lolos dari Jayakatwang, mengajak Mongol bersekutu untuk merebut kekuasaan dari Jayakatwang sebagai tahap awal mendirikan koloni Mongol cabang Jawa. Dipandu oleh sekutu barunya, sebagian besar tentara Mongol menyerbu ke pedalaman arah perbatasan Blitar-Kediri hingga ke jantung istana Daha yang baru seumur jagung. Tentara Mongol berhasil membuat kehancuran besar, istana Jayakatwang rata dengan tanah. Perang ini juga dinamai perang Tar-Tar. Pasukan Mongol berpesta pora di atas kemenangan pertamanya di negri nusantara.

Disaat Mongol sedang lengah dalam suasana euforia kemenangan, tiba-tiba sepasukan besar Singhasari (yang semula sekutu lokal saat menyerang Jayakatwang) mengepungnya. Tentara Mongol yang malang kalang kabut lalu dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Raden Wijaya (menantu Kertanegara) melalui siasat adu domba Mongol dengan Daha.

Taktik politik cerdik-licik “nabok nyilih tangan” di arena perang bersenjata -sama sekali tak dipahami oleh prajurit Mongol yang terbiasa taat pada aturan standar perang ksatria pedang yang tidak akan menikam dari belakang.

Ditambah lagi medan hutan Jawa yang asing sehingga pasukannya hancur dan sisanya kembali ke kapal dan berlayar pulang. Mongolia belajar dari pengalaman bahwa penerapan strategi perang bersenjata (dalam kedudukan sama-sama kuat) mudah meleset di nusantara (terutama Java) sehingga kalaupun misinya berlanjut maka harus ditaklukkan dengan cara lain yang “alon-alon waton kelakon”.

Beberapa bulan kemudian para bangsawan Singhasari mendeklarasikan berdirinya kerajaan Majapahit di hutan Tarik lalu memilih Trowulan sebagai ibukotanya. Seluruh aset dan SDM Singhasari langsung beralih ke Majapahit.

Raden Wijaya naik tahta pertama Majapahit dan langsung menyatakan seluruh bekas kekuasaan Singhasari (termasuk Selat Malaka dan perairan Natuna) sebagai teritorial dan wilayah hukum Majapahit. Negara sekutu Singhasari (dalam diplomasi Pamalayu) juga diklaim sebagai bagian dari Majapahit. Kabar kehancuran pasukan Mongol ditangan pasukan Raden Wijaya sudah tersiar luas cukup efektif untuk menegaskan status dan kapasitas Majapahit sebagai Adidaya Nusantara.

Majapahit juga langsung ngebut membangun infrastruktur perang besar-besaran, kapal-kapal raksasa, produksi segala jenis senjata dan mendirikan komando angkatan laut yang tidak kalah handal dari tentara Mongolia. Satuan besar Bhayangkara didirikan sebagai pasukan elit. Pada era raja ke 3 Ratu Tribuana Tungga Dewi dan raja ke 4 Hayam Wuruk bersama Patih Utama Gajahmada, Majapahit telah berhasil memperluas kekuasaan hingga ke luar negeri seperti di Madagaskar, Tumasik dan Semenanjung Melayu. Negara2 kecil lebih memilih bergabung dengan Majapahit daripada menjadi bawahan Mongol. Kala itu hanya Majapahit yang mampu menandingi kemapanan militer bangsa Samurai, Romawi kuno dan Mongolia baru.

Era baru telah lahir. Kekalahan Mongol di Jawa memancing musuh-musuh lama Mongol berani melakukan pemberontakan. Di berbagai negara terutama di Tiongkok terjadi makar terhadap Kaisar. Kejadian ini terus berlangsung, berabad-abad kemudian. Kerajaan Mughal yang merupakan negara koloni Mongol pun ikut direbut oleh raja Delhi.

Sejak berdirinya tahun 1294 hingga abad 14, kerajaan Majapahit amat berjaya sebagai penguasa maritim terbesar di dunia. Kapal dagangnya berlayar ke segala penjuru negeri dengan aman. Majapahit berdiri, Mongolia runtuh.

Mongolia Runtuh, Para Koloni Dirikan Kerajaan Baru

Sementara Kekaisaran Mongolia sedang mengalami krisis, mulai runtuh dan lama kelamaan terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan merdeka yang lebih kecil, antara lain yang menonjol adalah kerajaan Mughal. Pecahan kerajaan Mongol dibeberapa wilayah khususnya dibekas kekuasaan Dinasti Abbasiyah dan sekitarnya rata-rata mempertahankan coraknya yang Islami. Koloni Mongol di Iran tetap menganut Islam Syiah.

Selama Mongol menjadi negara Adidaya, telah membentuk banyak negara koloni termasuk di kawasan perbatasan India utara, yang masing-masing bebas menerapkan ajaran agamanya di sistem pemerintahan asalkan tetap setia pada kaisar Khan. Perkawinan silang antar koloni gencar dilakukan untuk menjamin keutuhan rezim besar. Darah biru Khan mengalir ke mana-mana dan menjadi elit politik yang disegani hingga berabad2 lamanya. Kakek raja Jalaluddin Akbar (raja Babur, pendiri wangsa Mughal) mengalir darah Jengis khan dari jalur ibunya. Babur sendiri belajar perang saat mudanya di Afganistan.

Mughal, Koloni Mongolia Terkuat dalam Sejarah

Kerajaan Mughal adalah salah satu serpihan kekaisaran Mongolia hijau (Mongolia merah ke Tiongkok dan Korea) yang menguasai wilayah Pakistan, Afganistan, Kasmir, Bangladesh dan sebagian India utara. Ciri khas imperium warisan Mongol ini agresif, kaku dan ekspansif. Reputasi perang militernya melegenda di darat dan di laut. Mugal mewarisi ketangguhan angkatan darat Mongol yang teruji di medan padang pasir yang panas membakar.

Mughal generasi ke-2 sempat dikudeta oleh kerajaan kerajaan besar dari Delhi. Ayah raja Jalal harus lari ke sekutu Persia (Iran) untuk merancang strategi merebut kembali kekuasaan Mughal di India. Para elit yang lolos dari kematian ini yang akhirnya berhasil kembali ke India sebagai gerilyawan.

Baca Juga:  Lacak Data Epigrafis "Akar Yajna Kasada"

Raja Humayun putra Babur akhirnya berhasil merebut kembali kedaulatan Mughal atas sokongan penguasa Safawiyyah Iran tahun 1555. Tak lama kemudian Raja Humayun meninggal dunia saat putranya Jalal masih bocah. Kerabatnya, Jenderal Bairam Khan berhasil menuntun putra Humayun menjadi raja. Hampir seluruh elit istana Mughal adalah anggota keluarga yang turun temurun melakukan perkawinan silang antara keluarga.

Kerajaan Mughal yang akhirnya beribukota di Agra, yang menganut Islam (suni) sebagai agama resminya ini telah mendeklarasikan kembali Kekaisaran Mughal sebagai penguasa seluruh tanah Hindustan. Sistem negara berdasarkaan Syariah dan Maklumat Raja. Setiap raja-raja tetangga yang menentangnya, diserbu dengan peperangan. Dinasti-dinasti India lama pun gempar dengan arus balik Mugal ini.

Utusan Mugal datang ke seluruh negeri mengumunkan penaklukan Raja Jalaluddin Akbar yang agung. Politik dan ekonomi harus tunduk pada sistim Mugal. Beberapa raja lokal yang keder langsung menerima dan sebagian yang taat pada prinsip Rajput yang kaku siap2 angkat senjata. Lebih baik mati di medan perang daripada harus tunduk pada Mughal, itulah doktrin umum di bangsa Rajput. Namun Mughal selalu mengambil posisi menyerang.

Satu – persatu kerajaan kecil dikuasai dan dinyatakan sebagai bagian dari Imperium Mughal. Mulai dari Gujarat, Benggala, Kabul hingga Khasmir di tundukkannya. Alat diplomasi Mughal adalah pedang: Tunduk atau Mati. Mau jadi negara bawahan atau hancur lebur. Para petinggi militer Mughal sangat hobi perang dan berlomba-lomba menjadi pemimpin operasi, seperti Jenderal senior Bairam Khan, Atgha Khan dan apalagi putra Maham Anga, Adam Khan yang bengis.

Mughal Lakukan Pernikahan Politik dengan Rajput, Taj Mahal Berdiri

Bangsa Barat seperti Inggris dan Portugis yang sudah mengembangkan teknologi senjata ledak skala besar (Meriam) belum berani mendekati zona Mughal. Portugis memilih berlayar ke Nusantara yang tengah dilanda perpecahan pasca hilangnya pamor Majapahit sejak tahun Saka “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” (1478). Inggris baru menjajah India jauh sesudah kekuasaan Mughal berakhir.

Hingga suatu hari Mughal menyerang Kerajaan Amer di padang perang yang jauh dari istana Amer. Atas dukungan satu unit pasukan elit Amer yang khianat pada raja Bharmal, Mughal berhasil mengalahkan prajurit gabungan Amer-Banpur dari negeri Rajput yang paling mapan di India dan akhirnya jatuh di tangan Mughal. Raja muda Suryabhan Sing dari Banpur (koloni utama Amer) yang merupakan calon suami ratu Jodha tewas. Penggalan kepalanya dikirim ke istana raja Bharmal.

Kerajaan Amer yang paling senior dan berpengalaman perang akhirnya menyaksikan sendiri bagaimana kebuasan tentara raja Jalaluddin Akbar, raja muda yang konon sudah “bermain-main” dengan mayat sejak usia 8 tahun dan masa remajanya sudah membantai begitu banyak prajurit musuh. Raja Jalaluddin Akbar bin Humayyun bin Babur memang besar dalam suasana konflik, konon sejak dalam kandungan sudah mendengar jeritan maut merenggut jiwa manusia di medan perang.

Raja Jalal sangat ditakuti dan terkenal kejam pada penentang politiknya sehingga disebut sebagai Kaisar yang Tidak Punya Hati. Cinta sudah mati dalam nuraninya. Meski kenyataannya raja “ganteng” (versi Bollywood) ini sangat bijaksana dan romantis, dia tetap menjadi momok bagi seluruh India. Reputasi klan KHAN memang melegenda bagi seluruh bangsa Asia.

Negeri Rajput merupakan tanah tua yang menjadi salah satu ikon dinasti mapan Hindustan; sangat terguncang dengan kekalahan Amer. Tiga putra raja Barmal andalan dinasti Amer (saudara ratu Jodha) menjadi sandera politik kerajaan Mughal dan terancam mati di tangan algojo raja Jalalunddin Akbar yang tak kenal belas kasihan. Raja Mughal hanya memberi tawaran: Amer mau tunduk mengakui kekalahan untuk jadi koloni Mugal atau semua akan tamat selamanya. Jadi negara bawahan atau rata dengan tanah. Mesin perang Mugal sudah menyala garang. Mobilisasi militernya siaga di semua perbatasan.

Demi mengamankan dinasti, awalnya dengan berat hati, dari sinilah mulainya konsensus damai antara kerajaan Amer dan Mughal. Maka sesuai tradisi, mahkota Rajput, Putri Jodha Bai yang cantik, cerdas diatas rata2 bangsawan Rajput dan paling taat pada budaya Hindi akan dikawinkan dengan Kaisar Jalaluddin Muhammad Akbar yang amat saleh namun juga amat toleran pada agama lain. Sejarah membuktikan, ekspansi Mongolia bukan masalah ideologi melainkan lebih pada politik ekonomi. Mongol tidak pernah menyentuh secara paksa masalah keyakinan, demikian juga dengan Mughal di bawah raja Jalal.

Sehingga bisa dipahami kenapa hingga kini India masih menjadi negara Hindu terbesar dunia. Sultan Jalal sendiri yang memulai kebijakan pluralisme India di antara tekanan ulama istana yang menginginkan tegaknya imperium Mughal yang harus bercorak syariah dalam pengertian yang saklek. Di sini peran ratu Jodha yang kental kultur Rajputnya cukup penting dalam mengintervensi arah politik istana Mughal yang lebih moderat.

Raja Barmal dari Amer yang sudah tua terpaksa menyetujui pernikahan politik ini demi meredam agresi raja Mughal dan menyelamatkan nyawa putra-putranya. Daripada dilindas oleh buldozer Mughal yang mengorbankan darah prajurit Amer yang pemberani lebih baik menjalin persaudaraan, meski caranya pahit.

Baca Juga:  Refleksi HUT 109 Kota Malang; Kota Bersejarah, Pusat Pendidikan, dan Turut Menyukseskan Indonesia Emas 2045

Berbeda dengan cara Bollywood mendramatisir “jatuh cinta” Raja Jalal pada pesona ratu Jodha dengan cara berlebihan. Sesungguhnya raja Jalal menghitung aspek politisnya, bahwa perkawinan ini penting untuk mengikat kultur darah Rajput, sebab Jodha dapat mewakili seluruh citra asli Rajput untuk masuk di istana Mughal yang kaku dan penuh intrik oknum elit istana seperti Maham Anga yang ambisius. Ratu Jodha memiliki kualitas sebagai bangsawan Rajput yang terpelajar dan mengerti ilmu pemerintahan di negeri Hindustan yang khas.

Untuk membangun negeri Hindustan yang megah dan legitimate maka Mughal memang harus mengambil unsur Rajput untuk melebur ke dalam Istana Mugal. Raja Jalal berhasil mengamankan “aset” istimewa Rajput di istananya yang penuh kelicikan dan menempatkan Jodha pada kedudukan yang istimewa (bahkan akhirnya didaulat sebagai ratu utama Mariam uz Zamani).

Terbukti di kemudian hari bahwa pendiri TajMahal adalah keturunan Jodha – Akbar (cucu), darah campuran Rajput – Mugal. Bukan keturunan Jalal – Ruqaiyah. Taj Mahal adalah juga bukti Mughal mengenang jasa / peran wanita dalam kekuasaan. Dan bagaimana mereka menghormati penyatuan antara kultur Islam – Hindustan.

Singkat cerita, Ratu Jodha menikah dengan Kaisar Mughal untuk merajut Mughal yang Islami dengan Amer yang Hindu dan konservatif. Tanah India terguncang oleh kabar pernikahan ini dan mencemooh raja Amer sebagai pengecut, penjual idealisme Rajput yang fanatik, gila kekuasaan dan melanggar tradisi tanah Hindustan yang jauh lebih tua dari riwayat Mughal.

Raja Amer bergeming, menurutnya inilah pilihan terbaik untuk membangun persatuan dan menghindari pertumpahan darah prajurit. Jika ia menolak tunduk maka seluruh tanah Rajput akan banjir darah sebab Mughal sedang berada dalam posisi terbaiknya. Raja Bharmal tidak rela prajurit dan negerinya hancur oleh karena ambisi raja dalam mempertahankan ego istana. Mengalah untuk kebaikan semua. Kala itu di hampir semua bangsa, pernikahan campuran antar dinasti merupakan salah satu alat diplomasi politik yang paling efektif untuk menjalin hubungan baik. Dalam perjalanannya koalisi Mughal – Amer memudahkan dinasti Mughal menguasai India dalam waktu yang lama. Dan Amer sendiri menjadi negara bawahan otonom yang paling besar di antara kerajaan Rajput lainnya.

Di istana Mughal sendiri terjadi pembangkangan internal yang terus menerus melakukan intrik dan teror pada Ratu Jodha. Raja Jalal harus melawan fanatisme orang dalamnya sendiri yang menentang masuknya budaya Rajput yang Hindu ke dalam sistem Syariah Kesultanan Mughal. Pernikahan beda agama saja sudah menjadi masalah mendasar bagi agamawan istana, namun karena pertimbangan politik dan terutama karena mutlaknya kuasa raja Jalal maka sasaran pelampiasan lebih banyak diarahkan kepada ratu Jodha. Ratu Jodha menghadapi intrik yang luar biasa kerasnya di istana Mughal.

Saat yang sama ratu cantik dari Amer tersebut, Jodha Bai orang yang amat taat pada budaya asli Rajput dan tidak mau berpura-pura syar’i pada seisi istana yang memaksanya hijrah total. Dia bersedia masuk istana Mughal hanya karena amat taat pada orang tuanya dan kewajibannya menjalankan kesepakatan kenegaraan. Pada aspek spritual Ratu Jodha mempertahankan prinsipnya. Dia lebih memilih mati ketimbang tunduk pada keyakinan lain selain ajaran dan budaya Rajput. Sebaliknya dia bertekad mendobrak pintu sistem kenegaraan Mughal yang menurutnya terlalu fanatis dan kolot. Bahkan dia berani mengkritik langsung beberapa kebijakan istana Mughal yang menurutnya keliru (Pada akhirnya kelak dia bersyahadat karena atas kemauannya sendiri setelah melihat langsung inti ajaran Islam yang ramah, bijaksana -tidak seperti yang diterapkan beberapa elit istana Mughal, semisal ulah mayoritas penghuni harem yang songong, Maham yang licik dan Adam Khan yang brutal).

Raja Jalaluddin Muh. Akbar adalah penganut Islam taat yang toleran, cenderung liberal dan tidak memaksakan kehendak pada rakyatnya untuk menjadi muslim. Bahkan Ratu Jodha sebagai bagian dari konsensus politiknya dengan suku Rajput bebas menganut keyakinannya (Hindu) dan bisa beribadah dengan nyaman di istana Mughal yang serba Syar’i.

Tempat ibadah Hindu dipugar lebih megah oleh Mughal yang menimbulkan kecemburuan beberapa elit ulama konservatif di istananya. Beberapa bangsawan Hindu diangkat jadi pejabat tinggi Mughal seperti raja Todar Mal. Banyak yang berusaha membendung kebijakan liberal raja Jalal. Namun siapa kala itu yang berani melawan keputusan raja Jalal?

Akulturasi budaya dan politik yang diterapkan Mughal dapat meningkatkan persatuan, mendatangkan kejayaan, berkembangnya seni campuran Mugal-Rajput, budaya, cinta dan kedaulatan politik, yang dikemudian hari menginspirasi lahirnya keajaiban dunia, Taj Mahal di kota Agra. Kemudian pada suatu zaman, militer Eropa (Inggris) datang ke India, menumpas seluruh kerajaan termasuk Mughal yang telah merosot.

Kisah Kesultanan Mughal yang menarik, dipopulerkan oleh para sineas India yang handal dalam bentuk sinetron maupun film layar lebar, sebagaimana mereka mempopulerkan Mahabarata maupun Ramayana hingga terkenal di seluruh dunia. **

Example 120x600