Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Literasi - WawasanSejarah

Musical-Dance Era Imperium Mataram dalam Kajian Sejarahwan

281
×

Musical-Dance Era Imperium Mataram dalam Kajian Sejarahwan

Sebarkan artikel ini

WartaPress, Kajian – Seni musik dan tarian menjadi kajian yang menarik, terutama dalam perspektif sejarah nusantara lama. Kajian ini diulas oleh arkeolog dan sejarahwan nasional, M. Dwi Cahyono.

Menurut Dwi, musik dan tari adalah dua kategori yang berbeda. Yang pertama lebih menekankan kepada aspek harmoni bunyi, dan yang kedua kepada gerak. Kendati keduanya merupakan kategori seni yang berlainan, namun tak harus disajikan dalam sajian seni yang berbeda tempat dan waktunya. Sebaliknya, lanjutnya, terbukalah kemungkinan untuk memadukan keduanya menjadi apa yang dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan “musical dance”.

“Pada konteks ini, penari sekaligus adalah musisi. Ia bermusik sembari menari. Musik yang dimainkannya sendiri atau bersama dengan musisi lanyasya (di dalam suatu ansambel musik) menjadi musik pengiring bagi tariannya,” ungkap M. Dwi Cahyono, dalam tulisannya (25/4/2024).

Baca Juga:  Busana atasan Nusantara masa Hindu - Buddha

Masih menurut Dwi Cahyono, berbagai negeri pada santero dunia, musical-dance dapat dijumpai. India terbilang subur akan musical-dance, bahkan sejak ribuan tahun lalu. Sebagai kawasan yang banyak mendapat pengaruh budaya India, bisa difahami bila jejak purba dari musical-dance juga kedapatan di Nusantara lama.

“Salah satu diantaranya tergambar sebagai relief candi, baik di candi Hindu ataupun candi Buddhis. Relief yang demikian kedapatan pada sejumlah panil relief di Candi Borobudur, dan pada waktu yang relatif bersamaan, jejak serupa cukup banyak ditampilkan di pagar langkan sisi luar candi Prambanan, terkait dengan tarian Tandava. Pada masa yang lebih kemudian, relief demikian itu kedapatan pada Candi Tegowangi di Pere Kab. Kediri, yang uniknya dimainkan oleh para wanita,” kata arkeolog yang sudah lama menjelajahi banyak situs kuno se nusantara ini.

Baca Juga:  Relief di Candi ini Ungkap Burung Pos Era Majapahit

Katanya lagi, pada relief tertayangkan, tergambar seorang pria (baca “musisi”) yang memainkan instumen musik,(waditra) jenis membrapon berupa kendan (mredamga, padahi) horisontal yang dimainkannya sembari menari. Penari yang sekaligus musisi ini berjenis kelamin pria, tepatmya pria muda, yang menari dengan gerakan tari yang ritmik dinamik. Musik dan tarinya bahkan mampu memancing sejumlah penonton untuk turut menari — meski tak sangat serempak.

Baca Juga:  Telinga Berdenging Pertanda Kabar Buruk akan Datang?

“Relief yang dipahatkan pada candi (tepatnya stupa) Buddhis Borobudur ini berasal dari medio abad IX Masehi, yakni pada era pemerintahan kerajaan Mataram. Sangat mungkin kala itu musical-dance yang seperti ini telah hadir pula di kancah kesenian Mataram, pada sekitar 1 1/4 abad yang lalu,” tambahnya.

Menurutnya, suatu kekayaan tari yang dimiliki oleh budaya Jawa lama dan tradisinya masih banyak kedapatan di Bali dan Lombok. Justru di Jawa masa sekarang tidak begitu marak, kecuali pada reyog kendang (reyog dogdog) di Kediri Raya dan Sunda. (Red2/la/wp). **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *