Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Literasi - Wawasan

Peranan Perawat Dalam Menurunkan Angka Stunting Melalui Pendekatan Biopsikososial

315
×

Peranan Perawat Dalam Menurunkan Angka Stunting Melalui Pendekatan Biopsikososial

Sebarkan artikel ini

Oleh: Daniel N.Danche
(Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya)

WP, (Gbr/Ilustrasi: HRstride) – Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). (Kemenkes RI, 2018)

Dampak stunting akan memengaruhi status gizi, hingga penurunan fungsi sensorik, motorik dan kognitif sehingga terjadi penurunan kulitas hal ini mengganggu pertumbuhan dan proses pematangan otak dan beresiko munculnya penyakit lain, anak yang mengalami stunting juga berdampak pada performa pembelajaran. Persentase anak stunting di NTT hingga Februari 2023 adalah 15,7 persen atau 67.538 anak. Jumlah tersebut menurun bila dibandingkan 2022 yaitu 17,7 persen atau 77.338 anak, hal ini sangatlah jauh dari target yang di tetapkan propivinsi NTT  untuk menurunkan angka stunting menjadi 12 persen berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTT.

Ada banyak faktor yang memicu tingginya angka anak mengalami stunting di NTT. Hal ini dikarenakan minimnya akses para ibu dan calon ibu di pedalaman untuk mendapat informasi dan edukasi mengenai stunting dan juga menyangkut masalah sosial ekonomi yang menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingginya angka stunting di NTT.Berbicara stunting maka kita berbicara masalah kesehatan yang meliputi masyarakat, keluarga dan individu untuk itu Perawat mempunyai peranan penting,peran perawat dalam upaya pencegahan stunting yaitu memberikan intervensi keperawatan seperti edukasi suportif, edukasi nutrisi, pelayanan kesehatan dengan peningkatan gizi dan terapi kesehatan serta pengenalan teknologi, selain itu juga mencakup pemberdayaan keluarga dan kolaborasi interprofesional dalam pencegahan        stunting.

Intervensi keperawatan sebagai upaya pencegahan kasus gizi buruk melalui upaya promotif dengan memberikan penyuluhan kepada ibu balita dan penyuluhan kepada kader-kader posyandu. Upaya preventif meliputi penimbangan berat badan, pengukuran lingkar lengan dan tinggi badan yang dilakukan sebulan sekali di setiap posyandu, pemberian paket obat -obatan dan makanan untuk pemulihan gizi. Peran perawat dalam memberikan pendidikan kesehatan harus lebih ditingkatkan khususnya dalam mengatasi masalah gizi pada balita. Perawat mempunyai kewajiban untuk memotivasi ibu menyusui dalam memberikan ASI eksklusif dan imunisasi yang lengkap. Seberapa besar peranan perawat dalam mengatasi masalah gizi meliputi pendidikan kesehatan tentang nutrisi pada anak balita dan pemberian informasi pada orang tua tentang tanggung-jawab dalam memelihara dan menjaga kesehatan anak.
Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dalam pencegahan gizi buruk pada balita meliputi pengkajian.Dalam proses mengkaji perawat harus jeli dan kritisi dalam mengambil data ibu,balita dan keluarga yang terkena stunting agar dapat menentukan diagnosa keperawatan,tindakan intervensi keperawatan perlu dilakukan perawat untuk mengambil langkah – langkah kongkrit apa yang harus dilakukan dalam melakukan penangan gizi buruk pada keluarga dan penderita.Tindakan keperawatan merupakan bentuk dari perwujutan /implementasi seperti memberi makanan tambahan dan vitamin.Tindakan evaluasi pada keluarga maupun bayi yang terkena gizi buruk tindakan ini salah satunya bisa berupa penimbangan dan pengukuran antropometri dalam kasus ini perawat juga harus memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan klien secara holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi, spiritual dan sosial.

Baca Juga:  Penerapan Feng Shui untuk Bangunan Ruko - Rukan

Peran Perawat sebagai Edukasi Nutri untuk mencukupi asupan nutrisi guna mencegah stunting pada anak dan Ibu Hamil perlu mengonsumsi beragam jenis makanan sehat dan bergizi seimbang, seperti ikan, telur, daging, makanan laut, kacang,umbi-umbian, biji-bijian, susu, keju, yoghurt, serta aneka buah dan sayuran untuk itu perlu adanya ketahanan pangan dan kemampuan megelola pangan lokal  menjadi makanan yang berkualitas tanpa mengurangi nilai gizi dan kandungan gizi serperti teknik pengolahan bahan dasar jagung menjadi olahan lauk pauk, sup, sampai camilan.

Perawat harus mampu memperkenalkan teknologi pengelolahan pangan kepada masyarakat berupa cara pengawetan bahan makanan tanpa mengurangi kadar gizi atau kandungan gizi pada bahan olahan. Ada delapan teknik pengawetan bahan makan yang bisa diterapkan dan disesuaikan dengan kondisi geografis masyarakat NTT yaitu pertama dengan teknik pendinginan atau pembekuan dilakukan untuk menurunkan suhu agar menghambat pertumbuhan mikro organisme.Penghambatan ini mencegah makanan membusuk dan basi. Makanan-makanan yang biasa mengalami proses pendinginan adalah (daging dan olahannya, buah, sayuran, susu), kedua teknik pemanasan sering diterapkan pada bahan makanan padat dan cair,proses pemanasan bertujuan untuk mematikan atau mencegah perkembangan mikroorganisme yang membusukkan makanan, ketiga teknik Pengasapan dilakukan dengan meletakkan makanan di suatu tempat lalu diasapi dari bawah tanpa mendekatkannya dengan api. Sebelum diasapi, daging atau ikan biasa direndam dengan air garam, namun ada pula yang langsung diasapi, keempat teknik pengalengan adalah proses menerapkan panas ke makanan yang disegel dalam tabung untuk menghancurkan mikroorganisme yang dapat menyebabkan pembusukan makanan.Makanan yang biasa dikalengkan meliputi sayur, buah, makanan laut, dan susu, kelima teknik pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan air dengan cara penguapan. Pengeringan biasa dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari. Pengeringan menghambat pertumbuhan bakteri, ragi, dan jamur melalui pembuangan air. Bahan makanan yang biasa dikeringkan seperti ikan, buah, sayur, dan daging, keenam teknik pengasinan atau penggaraman adalah metode mengawetkan makanan yang lebih umum sebelum pendinginan modern. Pengasinan menjaga makanan dengan menarik air keluar dari makanan, mencegah bakteri tumbuh dan merusak makanan. Makanan yang biasa diasinkan seperti daging, ikan, telur, dan buah-buahan.Ketujuh teknik pemanisan adalah metode pengawetan makanan yang mirip dengan pengasinan. Makanan dikeringkan terlebih dahulu dan kemudian dikemas dengan gula. Makanan yang sering dimaniskan adalah buah dan sayuran dan yang kedelapan teknik frementasi adalah proses alami di mana mikroorganisme seperti ragi dan bakteri mengubah karbohidrat seperti pati dan gula menjadi alkohol atau asam. Alkohol atau asam bertindak sebagai pengawet alami dan memberikan rasa khas dan kekenyalan pada makanan yang difermentasi. Makanan fermentasi banyak ditemui seperti tape, anggur, keju, dan masih banyak lagi.Teknik pengawetan bahan makanan merupakan salah satu upaya dalam mengenalkan masyarakat tentang bagaimana cara pengawetan bahan olahan sehingga bisa di manfaatkan dalam jangka waktu yang lama hal ini disesuaikan dengan kondisi dan iklim dan budaya setiap daerah di NTT.

Baca Juga:  Telinga Berdenging Pertanda Kabar Buruk akan Datang?

Penangan masalah stunting Diera digitalisasi dan penggunaan Smartphone menjadi sesuatu hal yang lumrah untuk itu banyak informasi yang bisa didapat dan diakses untuk menambah pengetahuan, cara pandang perawat sehingga dapat berkontribusi dalam memperoleh sikap positif mengenai pencegahan stunting. Penggunaan teknologi seperti aplikasi  memudahkan tenaga kesehatan dalam bekerja untuk memantau status gizi, perkembangan, dan sebagainya untuk pencegahan stunting Masalah gizi kurang/stunting yang ada sekarang ini antara lain disebabkan karena konsumsi yang tidak adekuat dipandang sebagai suatu permasalahan ekologis yang tidak saja disebabkan oleh ketidak cukupan ketersediaan pangan dan zat-zat gizi tertentu tetapi juga dipengaruhi oleh kemiskinan, sanitasi lingkungan yang kurang baik dan ketidaktahuan tentang gizi. Tingkat sosial ekonomi mempengaruhi kemampuan keluarga untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita, disamping itu keadaan sosial ekonomi juga berpegaruh pada pemilihan macam makanan tambahan dan waktu pemberian makananya serta kebiasan hidup sehat. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting balita. Status sosial ekonomi juga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan keluarga, apabila akses pangan ditingkat rumah tangga terganggu, terutama akibat kemiskinan, maka penyakit kurang gizi  atau malnutrisi salah satunya stunting pasti akan muncul untuk itu perawat perlu mengambil peran peting dalam mengurangi kesenjangan sosial,Seorang perawat profesional haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier. Peranan perawat dalam mencegah stunting melalui edukasi suportif, edukasi nutrisi, pelayanan kesehatan dan,pemberdayaan keluarga dengan peningkatan motivasi keluarga, dan kolaborasi interprofesional sebagai upaya pencegahan stunting menuju masyarakat NTT yang mandiri dalam pangan dan mewujudkan masyarat NTT sehat. ***

Baca Juga:  Dr. Mondry, SP., M.Sos., dosen Sosiologi FISIP UB Terbitkan Buku Tentang Media dan Bencana
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *