Scroll ke bawah untuk membaca post
Example floating
Example floating
Literasi - Wawasan

Telinga Berdenging Pertanda Kabar Buruk akan Datang?

290
×

Telinga Berdenging Pertanda Kabar Buruk akan Datang?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Maylaffrillia Putri (Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya)

Ada yang tau salah satu adegan di drakor Home Town Cha Cha Cha, nggak? Atau ada yang pernah ngerasain sendiri, telinga bunyi nging nging nging. Ternyata itu semua ada penjelasannya, lho. Untuk lebih jelasnya, yuk, baca penjelasan di bawah ini.

Telinga berdenging merupakan peristiwa saat telinga seperti dibisiki oleh alarm yang berbunyi “nging” atau seperti dikelelilingi oleh nyamuk atau lebah. Seringkali dengingan yang dirasakan oleh, entah sebelah kanan ataupun kiri, memiliki makna yang berbeda-beda tergantung waktu datangnya. Jika telinga kanan berdenging di kisaran pukul 9-10 pagi, sering dikaitkan dengan pertanda munculnya kabar buruk dari keluarga, sedangkan jika telinga kiri yang berdenging di jam yang sama, diyakini merupakan pertanda akan tercapainya kesuksesan dan keberuntungan.

Mengenai hal ini, terdapat perbedaan anggapan dalam Agama Islam. Jika seseorang merasakan dengingan pada telinga kanan, orang tersebut merupakan orang terpilih yang akan mendapatkan hal baik, sedangkan dengingan telinga kiri menandakan bahwa orang tersebut sedang dirindukan oleh Rosul Allah. Selain itu, dalam anggapan Masyarakat Indonesia, telinga berdenging juga dapat diartikan jika ada orang lain yang sedang membicarakan kita, khususnya untuk dengingan pada telinga sebelah kiri, biasanya dimaknai bahwa hal buruk mengenai kitalah yang sedang dibicarakan.

Salah satu dasar masyarakat Indonesia mempercayainya adalah karena adanya Primbon Jawa, dimana terkadang mereka merasa harus mematuhi ataupun mempercayainya dengan alasan agar terhindar dari segala mara bahaya. Primbon Jawa ini sudah muncul sejak zaman kuno, dimana orang-orang belum bisa membuktikannya secara ilmiah, yang tetap berlanjut hingga masa kini karena masih banyak masyarakat yang mempercayainya.

Baca Juga:  Pijat Bayi Dapat Meningkatkan Kualitas Tidur Bayi???

Persepsi dari kebanyakan masyarakat di Indonesia ini sering membuat banyak orang ketakutan, apalagi jika mereka merupakan orang awam yang kurang mengerti mengenai penjelasan medis. Mereka akan percaya dan juga menyebarkannya ke orang lain sehingga kekeliruan ini nantinya akan berlanjut hingga generasi yang akan datang. Kekeliliruan tersebut dapat berakibat fatal pada kesehatan manusia, apalagi jika kejadian telinga berdenging ini dirasakan dengan frekuensi yang sering namun tidak dikonsultasikan kepada pihak yang berkompetensi.

Hal tersebut disebut dengan Tinnitus pada dunia medis. Tinnitus merupakan persepsi bunyi yang diterima oleh telinga penderita tanpa adanya rangsangan dari luar. Terdapat dua jenis Tinnitus, yaitu Objektif dan Subjektif. Tinnitus objektif merupakan bunyi yang berasal dari organ lain dalam telinga, sedangkan Tinnitus subjektif merupakan bunyi yang hanya dirasakan oleh individu tersebut, tetapi tidak ada sumber suara yang bersangkutan. Jenis Tinnitus subjektif adalah yang paling umum diderita oleh manusia.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Annick Gilles pada tahun 2013 didapatkan hasil bahwa remaja memiliki prevalensi tinggi terkena Tinnitus yaitu sebesar 45-77%. Hal itu dikarenakan oleh paparan suara bising yang diakibatkan oleh perkembangan zaman dan teknologi misalnya, pemutar musik yang kini berubah ke bentuk sesederhana gadget. Tidak cukup dengan itu, manusia kembali berinovasi dengan Headphone, Earphone, Airpods dan berbagai bentuk lainnya yang keberadaannya mengancam fungsi pendengaran. Kapasitas maksimal pendengaran manusia hanya pada 85 dB, sedangkan saat menggunakan berbagai alat tersebut, kita bisa mendengar musik dalam kapasitas 110 dB. Selain itu, hiruk pikuk kota juga menjadi salah satu penyebab terjadinya Tinnitus, karena tingkat kebisingannya mencapai 100 dB. Penyebab lain Tinnitus yaitu cedera kepala dan leher yang memengaruhi saraf pendengaran, kotoran telinga yang tidak pernah dibersihkan dan mengeras, konsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi, dan gangguan pada pembuluh darah seperti penumpukan kolesterol.

Baca Juga:  Kasus Phineas Gage: Sebuah Ledakan dan Besi Menjadi Pengantar dalam Kajian Neurosains

Nah, penasaran gak sih kok bisa kita sadar kalau suara itu berasal dari kepala kita sendiri?

Mekanisme terjadinya Tinnitus ini memiliki beberapa teori. Teori yang pertama beranggapan bahwa Tinnitus terjadi karena disfungsi bagian dalam telinga yang bernama Koklea yang berfungsi sebagai pengubah suara menjadi impuls dan meneruskannya melalui saraf pendengaran menuju otak, sehingga otak dapat memroses informasi yang terkandung dalam suara, serta gagalnya proses interpretasi oleh saraf sensorik atau aferen IHC. Sehingga suara yang diterima tidak dapat diproses dengan benar yang menimbulkan persepsi dengingan. Kebisingan yang intens merupakan salah satu penyebab dari rusaknya koklea, sel rambut luar (OHCs) dan dalam telinga (IHCs) yang memiliki fungsi sebagai reseptor sensorik. Koklea, OHC, dan IHC merupakan bagian krusial yang ada pada dalam telinga.

Baca Juga:  Penulis Mpokgaga Luncurkan Buku Amigdala: Residu yang Bersemayam Tentang Perjuangan Bangkit Menjadi Penyintas Kekerasan Domestik

Teori yang kedua beranggapan bahwa koklea tidak berperan banyak saat terjadi Tinnitus melainkan persepsi pendengaran dan emosi dari individu. Terdapat dua tipe individu dalam masalah ini, yang pertama yaitu tidak menyadari terjadinya Tinnitus karena telah mengalami hal ini beberapa kali sehingga abai dan tidak sadar. Tipe kedua yaitu, ketika individu tersebut sedang dilingkupi emosi negatif yang kemudian menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan ketegangan maka otak akan bereaksi terhadap emosi tersebut.

Teori yang ketiga menyebutkan bahwa timbulnya Tinnitus diakibatkan oleh aktivitas berlebihan pada Koklea yang berujung pada tidak jelasnya informasi yang diterima otak. Untuk mengatasi Tinnitus ada beberapa cara tergantung pada penyebab terjadinya Tinnitus, pertama kurangi mendengarkan musik dengan volume keras dalam jangka waktu yang lama, mengganti obat yang dikonsumsi dengan dosis yang lebih aman dan sesuai anjuran dokter, bersihkan kotoran telinga dengan rutin menggunakan alat yang aman, dan mengatasi masalah pembuluh darah dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi. **

Referensi

Baguley,D. (2002). Mekanisme tinnitus. Buletin Medis Inggris, 63(1), 195–212
Lintong, F. (2009). Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Jurnal Biomedik, 1(2), 81-86

Example 120x600