WartaPress, Jakarta, (15/2/2026) — Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Dewan Pengurus Pusat Badan Musyawarah Masyarakat Bima (DPP BMMB) yang digelar di Gedung Juang 45, Jakarta, Sabtu (14/2), menjadi memontem penting bagi perjalanan organisasi ke depannya. Forum tersebut menegaskan kembali pentingnya persatuan komunitas diaspora Bima di Jabodetabek sekaligus menjadi kesempatan strategis untuk mempertegas kontribusi bagi kampung halamam di semua sektor.
Ketua Panitia Munas, Adi Baiquni, S.Psi, M.H., menyampaikan bahwa Munas IX menunjukkan kuatnya jaringan dan solidaritas masyarakat Bima lintas generasi, khususnya di Jabodetabek. Ia menilai forum musyawarah merupakan langkah preventif untuk menghindari fragmentasi organisasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Acara ini terlaksana dengan baik karena ada kerja sama yang baik dari semua unsur,” kata Adi Baiquni yang juga alumnus UIN Maliki dan UID ini.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP BMMB periode 2023–2026, Dr. H. Salahudin Gaffar, menyoroti perlunya musyawarah dan mufakat yang serius sebagai instrumen utama memperkuat kesatuan. Menurutnya, persatuan yang kokoh bukan hanya simbol, tetapi modal utama untuk memperluas peran diaspora dalam pembangunan sosial-ekonomi Bima.
“Musyawarah ini bagian dari upaya memikirkan kemaslahatan masyarakat Bima di rantau, tetapi juga jangan sampai melupakan kampung halaman. Yang sudah sukses harus tetap peduli terhadap kondisi di daerah asal,” ungkapnya.
Tema persatuan menjadi pesan khusus dalam forum tahun ini. Fokus pada persatuan ini muncul di tengah tantangan diaspora Indonesia secara keseluruhan, di mana isu ikatan komunitas dengan pembangunan daerah terus menjadi sorotan di berbagai forum nasional. Upaya profesionalisasi dan efektivitas peran diaspora menjadi kunci agar kontribusi mereka tidak sekadar simbolik, tetapi nyata dalam menciptakan peluang kerja dan pertumbuhan lokal.
Salah satu tokoh masyarakat Bima yang hadir, termasuk Dr. Makmun, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, memberi tekanan tambahan bahwa strategi diaspora harus berpadu dengan agenda pembangunan nasional. Ia menyerukan agar tokoh yang sukses di ibukota membuka usaha yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dan memperkuat basis ekonomi daerah asal.
Munas IX BMMB yang digelar di Jakarta ini bukan hanya sekedar suksesi kepemimpinan organisasi, tetapi momentum penting untuk mengokohkan peran diaspora dalam sinergi pembangunan lokal dan nasional — dari Jakarta untuk Bima. (red2/wp). **









