WartaPress, Caracas — Agresi Amerika Serikat semakin merajalela di Venezuela, kini memasuki babak baru yang merambah ke jantung kekuasaan negara kaya minyak tersebut. Tanpa ada hukum internasional yang mengaturnya, militer AS bahkan menculik pemimpin negara tersebut.
AS melancarkan “serangan skala besar” ke Venezuela pada Sabtu pagi dan mengatakan presidennya, Nicolás Maduro, dan ibu negara Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu setelah berbulan-bulan tekanan yang ditingkatkan oleh Washington — sebuah operasi luar biasa di malam hari yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump di media sosial beberapa jam setelah serangan itu.
Beberapa ledakan terdengar dan pesawat terbang rendah melintas di Caracas, ibu kota Venezuela, ketika pemerintah Maduro segera menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer. Pemerintah Venezuela menyebutnya sebagai “serangan imperialis” dan mendesak warga untuk turun ke jalan.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan, “Kami tidak mengetahui keberadaan Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores.”
Dia menambahkan: “Kami menuntut bukti bahwa dia masih hidup.”
Departemen Kehakiman selama masa jabatan pertama Trump menuduh dalam beberapa dakwaan bahwa Maduro secara efektif telah mengubah Venezuela menjadi perusahaan kriminal yang melayani para peng traffickers narkoba dan kelompok teroris, sementara ia dan sekutunya mencuri miliaran dolar dari negara Amerika Selatan tersebut.
Sementara Presiden Nicolas Maduro sejak lama menentang AS dan menuding penguasa negara tersebut berambisi menguasai ladang-ladamg minyak yang melimpah di Venezuela. Ia menganggap AS berusaha menjajah negaranya untuk agenda penguasaan mineral.
Presiden Gustavo Petro dari Kolombia, salah satu kritikus Trump yang paling keras, mengatakan bahwa pemerintah Kolombia mengadakan pertemuan keamanan nasional sebelum fajar pada hari Sabtu dan mengirim pasukan keamanan ke perbatasan sebagai persiapan untuk potensi “gelombang besar pengungsi” dari negara tetangga Venezuela.
Dia mengatakan bahwa dia juga akan meminta Dewan Keamanan PBB untuk mempertimbangkan “agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin.”
“Tanpa kedaulatan, tidak ada negara,” tulis Petro di media sosial.
Sementara mantan Dubes Indonesia untuk AS, Dr Dino Patti Djalal mengatakan melalui akun x @dinopattidjalal pada Sabtu,
“Invasi militer & penangkapan/penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh AS menandakan bhw hukum rimba tlh gantikan hukum internasional. Negara yg kuat merasa berhak melakukan aksi “semau gue” thdp negara lain,” tulisnya
Dino menambahkaj bahwa ini pertanda kita memasuki a dangerous world order. “Bagaimana sikap DK PBB ? Sikap G7 ?Bagaimana sikap Amerika Latin ? Bagaimana sikap 🇮🇩 ? Ujian bagi polugri bebas aktif yg berlandaskan pd prinsip,” lanjut Dino. (red2/la). **









