WP, JAKARTA – Kelompok musik Akaracita kembali menghadirkan karya terbaru melalui single berjudul “Jagau” yang dirilis bulan lalu. Lagu ini menjadi lanjutan eksplorasi mereka dalam mengolah tradisi musik Kalimantan Selatan, khususnya gamalan Banjar, ke dalam lanskap musik kontemporer.
Dalam “Jagau”, Akaracita tidak sekadar menghadirkan ulang musik tradisi, melainkan mengolahnya sebagai sumber penciptaan bunyi baru yang relevan dengan pengalaman pendengar masa kini. Karya ini berangkat dari ketertarikan terhadap sosok Jagau dalam ingatan budaya Banjar, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa musikal yang lebih luas.
Pendekatan tersebut menempatkan tradisi bukan hanya sebagai identitas melalui instrumen, tetapi sebagai pengetahuan musikal. Unsur seperti pola, tekstur, ritme, hingga karakter bunyi menjadi dasar eksplorasi dalam membangun komposisi.
Melalui single ini, Akaracita juga mencoba mengaburkan batas antara musik tradisi dan kontemporer. Keduanya tidak dipertentangkan, melainkan dipertemukan sebagai proses kreatif—tradisi sebagai titik berangkat, dan musik kontemporer sebagai ruang eksplorasi.
“Bagi kami, tradisi bukan sesuatu yang harus dibekukan. Ia memiliki pengetahuan yang bisa terus dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan. ‘Jagau’ adalah salah satu upaya kami untuk menemukan kemungkinan bunyi baru dari pengetahuan tersebut,” ujar Novyandi dari Akaracita.
Kehadiran “Jagau” sekaligus menegaskan posisi Akaracita sebagai kelompok musik yang tidak hanya memainkan kembali repertoar tradisi, tetapi juga aktif mengolahnya menjadi karya baru dengan pendekatan yang lebih kontekstual.
Melalui karya ini, Akaracita menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini, sekaligus memperluas cara pandang terhadap potensi musik tradisi dalam perkembangan musik modern. (Rls). **









