WartaPress, Kota Malang – Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat keberagaman dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026 ini, kampus yang dikenal dengan julukan “Kampus Kebudiutamaan” tersebut menggelar penyembelihan dan penuangan berkah hewan kurban yang melibatkan seluruh civitas akademika, tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan ras (SARA).
Rektor Universitas Insan Budi Utomo Malang, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si, menyampaikan bahwa perayaan Iduladha di lingkungan UIBU bukan sekadar ritual keagamaan bagi umat Muslim, melainkan momentum universal untuk berbagi kebahagiaan dan memperkuat gotong royong.
”Melalui momentum Idulkurban ini, kita semua lintas keyakinan ikut merasakan kebahagiaan bersama. Di UIBU, semua unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan seluruh elemen kampus membaur tanpa sekat. Inilah bagian dari implementasi nyata nilai-nilai Kebudiutamaan yang selalu kita gaungkan,” ujar Dr. Nurcholis.
Suasana kebersamaan begitu kental terasa saat seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang non-Muslim, berkumpul untuk menikmati hidangan berbahan dasar daging kurban bersama-sama. Acara makan bersama ini sukses menjadi jembatan toleransi yang mencairkan perbedaan.
Salah satu mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Inggris asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Afretina Alisa, yang beragama Katolik, mengaku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari perayaan ini. Ia terkesan dengan kehangatan dan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan oleh lingkungan kampus.
”Saya sangat senang bisa merasakan langsung kebersamaan ini. Semua menu yang disajikan dari hewan kurban rasanya enak sekali, terutama baksonya, saya sangat suka. Semoga tahun depan acara penuh kekeluargaan seperti ini bisa terus berlanjut,” ungkap Afretina dengan wajah sumringah.
Senada dengan Afretina, Emanuel, mahasiswa asal Flores lainnya yang juga beragama Katolik, mengaku ini adalah kali ketiga dirinya ikut serta dalam perayaan Iduladha di kampus UIBU. Ia menilai pelaksanaan tahun ini terasa jauh lebih tertib dan teratur.
”Ini sudah ketiga kalinya saya ikut, dan rasanya senang banget. Tahun ini suasananya lebih teratur. Di sini, kita benar-benar bisa menjalin toleransi tanpa membedakan suku dan agama. Bisa makan bersama seperti ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu,” kata Emanuel.
Melalui kegiatan ini, UIBU Malang sukses membuktikan diri bukan hanya sebagai lembaga pendidikan tinggi formal, melainkan juga sebagai laboratorium sosial yang berhasil menyemai indahnya toleransi dan persaudaraan sejati di bumi Arema.(tf/wp). **









