Penulis: Dr. Hj. Risa Elvia, S.Ag., M.Pd, Pegiat pendidikan dan sosial di Kabupaten Malang. Aktif dalam isu penguatan keluarga, perlindungan anak, dan pengembangan masyarakat berbasis nilai keagamaan. Pengurus Lakpesdam dan LP Ma’arif PCNU Kab. Malang.
Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan makna teologis dan sosial. Secara teologis, Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa iman tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga mencakup keyakinan terhadap hal-hal gaib yang diyakini kebenarannya berdasarkan wahyu. Sedangkan makna sosial yakni nilai-nilai yang lahir dari Isra’ Mi’raj (disiplin, tanggung jawab, kejujuran, empati) membentuk tatanan keluarga dan masyarakat yang beradab.
Allah SWT berfirman:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra’: 1)
Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah, Isra’ Mi’raj tidak hanya dipahami sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai tuntunan nilai untuk membangun keseimbangan antara iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Peristiwa ini menegaskan bahwa agama hadir untuk menjaga kemaslahatan hidup manusia, sebagaimana tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah): menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Hikmah paling utama dari Isra’ Mi’raj adalah perintah shalat. Dalam tradisi NU, shalat dipahami bukan sekadar kewajiban individual, tetapi sebagai penyangga kehidupan sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
“Pokok segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat.”
(HR. Tirmidzi)
Shalat melatih kedisiplinan, kejujuran, dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas. Dalam konteks keluarga, shalat menjadi sarana pendidikan karakter yang paling mendasar. Anak-anak belajar nilai bukan hanya dari nasihat, tetapi dari keteladanan orang tua. Ketika shalat ditegakkan dengan tenang dan penuh makna di rumah, di situlah nilai agama ditanamkan secara hidup dan membumi.
Isra’ Mi’raj juga terjadi setelah Rasulullah SAW melewati masa penuh ujian berupa kehilangan, kesedihan, dan penolakan. Hal ini menunjukkan bahwa jalan spiritual dalam Islam tidak menafikan realitas penderitaan manusia. Justru dari kesabaran itulah lahir kekuatan.
Dalam pengasuhan anak, nilai ini mengajarkan pentingnya rifq (kelembutan) dan shabr (kesabaran).
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.”
(HR. Muslim)
Di tengah tantangan zaman—mulai dari tekanan digital, krisis identitas remaja, hingga berbagai persoalan sosial—keluarga menjadi benteng utama. Dalam kerangka hifzh an-nasl (menjaga keturunan), Islam menempatkan perlindungan anak sebagai amanah besar. Penanaman nilai agama yang ramah, dialogis, dan konsisten menjadi kunci untuk mencegah berbagai praktik yang merusak masa depan anak, termasuk kekerasan dan perkawinan anak.
Allah SWT menegaskan bahwa shalat memiliki dampak sosial yang nyata:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa spiritualitas dalam Islam harus berbuah pada akhlak. Dalam pandangan NU, keberagamaan tidak diukur dari simbol semata, tetapi dari sejauh mana nilai agama menghadirkan kemaslahatan dan ketenteraman bagi sesama.
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa setelah “naik” mendekat kepada Allah, Rasulullah SAW kembali ke bumi, kembali kepada umat. Ini adalah pesan dakwah yang sangat penting: ibadah tidak boleh menjauhkan kita dari kepedulian sosial. Justru dari kedekatan dengan Allah, lahir kepekaan terhadap persoalan umat—dari rumah tangga hingga masyarakat luas.
Isra’ Mi’raj mengajak kita melakukan mi’raj kehidupan: menaikkan kualitas iman, lalu menurunkannya dalam amal nyata. Menjadikan shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi sumber akhlak dan keteguhan dalam mendidik keluarga. Dari rumah yang penuh nilai, akan lahir generasi yang kuat imannya, lembut akhlaknya, dan bertanggung jawab secara sosial.
Di tengah zaman yang penuh tantangan, mari jadikan Isra’ Mi’raj sebagai momentum muhasabah—menata kembali hubungan kita dengan Allah SWT dan dengan sesama. Sebab, peristiwa langit itu sejatinya mengajarkan satu hal penting: semakin dekat manusia kepada Allah, semakin besar tanggung jawabnya untuk menebar rahmat di bumi.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.









