WartaPress • Editorial, Kajian Demokrasi — Dalam kerangka demokrasi internal partai, Golkar dapat dikategorikan sebagai salah satu partai dengan mekanisme paling kompetitif dan institusional di Indonesia, karena: membuka ruang kontestasi, menyerahkan pilihan kepada pemilik hak suara, dan relatif tidak dikendalikan oleh figur tunggal.
Dalam tradisi regenerasi kepemimpinan partai politik secara umum terkadang sarat dinamika akibat kencangnya kompetisi antar kandidat. Namun dinamika dapat dipahami sebagai bagian dari ekspresi politik yang biasanya berakhir dengan ‘rekonsiliasi’ politik, konsolidasi dan kolaborasi atas kesadaran kolektif menjalankan tugas yang lebih besar: menjalankan roda partai agar tetap eksis di tengah iklim politik yang sangat kompetitif.
Musyawarah Daerah DPD Partai Golkar Kota Malang yang dilaksanakan beberapa waktu lalu (14/12/2025), telah menetapkan Djoko Prihatin sebagai Ketua terpilih. Djoko merupakan kader partai yang memiliki banyak pengalaman berorganisasi kewirausahaan, seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan kini merupakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Malang. Ia menjadi Anggota DPRD Kota Malang dari dapil Lowokwaru.
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Ali Mufthi, usai Musda DPD Golkar Kota Malang, secara terbuka menyampaikan bahwa ketua DPD Golkar Kota Malang yang terpilih, yakni Djoko Prihatin, harus mampu mengakomodasi seluruh fungsionaris, unsur ormas, tokoh keagamaan, hingga kepengurusan yang ada saat ini.
“Ketua terpilih harus bisa merangkul semuanya. Konsolidasi itu kuncinya,” pesan Ketua DPD Golkar Jatim kepada Ketua DPD Kota Malang terpilih.
Pesan tersebut dapat dipahami sebagai langkah strategis menghidupkan tradisi politik Partai Golkar pada setiap momentum suksesi internal: sekencang apapun dinamikanya, selalu berujung pada konsolidasi tanpa dendam politik, penataan struktural yang mengakomodir semua kubu, dan mengedepankan kepentingan partai di atas kepentingan individu/kelompok. Ini menjadi ciri khas kedewasaan politik kader Golkar.
Jika memikirkan kepentingan partai di atas segalanya, maka polemik semestinya tidak berlarut. Sebab polemik tidak akan merubah keadaan, Golkar dikenal sangat ketat melindungi hasil forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi seperti MUSDA. Golkar teruji bertahan dari banyak badai politik karena kadernya teguh menjaga AD/ART. Kader Golkar juga sangat paham, para kompetitor di luar “bertepuk tangan” disaat ada polemik internal.
Djoko Prihatin sebagai ketua terpilih, tentunya sudah memetakan situasi dan faksi internal mana yang mendukung dan tidak. Sehingga konsep merangkul semua pihak sebagaimana pesan Ketua Jatim sudah bisa dieksekusi antara lain dalam komposisi penataan kepengurusan kepartaian. Namun syaratnya adalah, semua pihak harus sepakat mengakhiri polemik dan membangun suasana kondusif sekaligus demi menjaga citra partai.
Golkar sebagai salah satu parpol potensial di kota berpenduduk hampir 900 ribu jiwa ini (memiliki 6 kursi legislatif di Kota Malang), harus menjaga basis massanya, serta mempersiapkan diri menyambut pesta demokrasi yang akan datang. (FGD/litbang WPN). **
Foto: diolah dari sumber BangsaOnline









