Presisi News Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Catatan MahasiswaNarasi

Prinsip Halalan Thoyyiban: Kunci Mencapai Hidup Sehat dalam Perspektif Fiqih Prioritas

339
×

Prinsip Halalan Thoyyiban: Kunci Mencapai Hidup Sehat dalam Perspektif Fiqih Prioritas

Sebarkan artikel ini

Oleh : Wafa Fitriani, (Mahasiswa STEI SEBI, Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah)

Di zaman yang serba modern ini, semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan adalah dengan menerapkan prinsip halalan thoyyiban. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan apa yang diperbolehkan dalam ajaran Islam, melainkan juga menekankan pentingnya kualitas dalam setiap aspek kehidupan. Dalam pratika fiqih prioritas, halalan thoyyiban menjadi dasar untuk mencapai gaya hidup yang sehat.
Halalan thoyyiban memiliki dua elemen utama.

Pertama, halalan merujuk pada segala hal yang dibolehkan secara syariat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Dan makanlah apa yang disebut nama Allah atasnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya” (Q.S. Al-An’am: 121).

Kedua, thoyyiban berarti baik, bersih, dan berkualitas. Oleh karena itu, halalan thoyyiban mengacu pada semua yang halal sekaligus bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental.

Baca Juga:  Planetarium Jakarta Comeback, Siapkah Hadapi Bayangan Krisis?

Penerapan prinsip ini memberikan dampak signifikan bagi kesehatan. Salah satunya adalah memastikan asupan nutrisi yang baik. Penggunaan bahan makanan yang halal dan berkualitas membantu dalam menjaga kesehatan fisik.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik (thayyibat) yang Kami berikan kepadamu…” (Q.S. Al-Baqarah: 172).

Makanan yang halal dan baik juga memberi rasa tenang dan damai dalam hati, yang penting untuk kesehatan mental. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim).

Selain itu, prinsip ini mendukung pencegahan penyakit dengan menghindari makanan yang berdampak buruk bagi kesehatan, seperti yang tertulis, “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…” (Q.S. Al-Baqarah: 188).
Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan dengan menyampaikan bahwa “Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu”.
Hadis ini menyoroti pentingnya memanfaatkan masa sehat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Pesan ini mengingatkan umat untuk tidak menyepelekan kesehatan saat masih baik, karena kesehatan adalah anugerah yang perlu dirawat. Saat seseorang mengalami sakit, biasanya proses pemulihan menjadi lebih sulit dan tidak selalu berhasil. Oleh karena itu, prinsip halalan thoyyiban sangat relevan, karena mengonsumsi makanan yang sehat dan halal merupakan investasi untuk kesehatan yang akan berpengaruh positif di masa depan.

Baca Juga:  Pemilu 2024 Harus Kondusif dari Gesekan Pendukung Capres dan Cawapres

Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan prinsip halalan thoyyiban dapat dilakukan melalui berbagai langkah. Pertama, pemilihan makanan harus dilakukan secara hati-hati, memastikan bahwa yang dikonsumsi benar-benar halal dan berkualitas tinggi. Memasak di rumah juga memberikan kontrol penuh terhadap bahan yang digunakan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baiknya makanan adalah makanan yang dimasak oleh tangannya sendiri” (HR. Ahmad). Selain itu, penting juga untuk melakukan pendidikan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai halalan thoyyiban melalui seminar dan diskusi.

Baca Juga:  Polemik Beasiswa Pemprov KEPRI 2025, Mahasiswa Angkat Bicara

Dari sudut pandang fiqih, prinsip halalan thoyyiban memiliki kedudukan yang sangat signifikan. Fiqih prioritas menegaskan bahwa memilih makanan dan barang yang halal serta berkualitas adalah langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin menyatakan bahwa makanan memengaruhi akhlak dan kesehatan jiwa, yang semakin menunjukkan pentingnya prinsip ini dalam konteks fiqih.

Secara keseluruhan, prinsip halalan thoyyiban menjadi pedoman untuk mencapai kehidupan sehat yang ideal. Dengan memperhatikan kehalalan dan kualitas dalam setiap konsumsi, kita akan merasakan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental. Ketaatan pada prinsip ini tidak hanya merupakan kewajiban, tetapi juga langkah pencegahan untuk menggapai kualitas hidup yang lebih baik. Mari kita semua berkomitmen untuk mengimplementasikan halalan thoyyiban dalam kehidupan sehari-hari demi mewujudkan kehidupan yang sehat, berkualitas, dan sesuai dengan ajaran Islam. ***


Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *