Penulis: Arsyra Refi Auriellisa
(Mahasiswa Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang)
Pada Kamis, 21 November 2024, lapangan Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, menjadi saksi megahnya pagelaran seni tradisional wayang kulit yang dipimpin oleh Dalang Ki Redi Mbelung. Acara ini diselenggarakan dalam rangka tasyakuran oleh Nurhadi anggota DPR RI dan Sumaji anggota DPRD Kabupaten Blitar sebagai wujud syukur dan apresiasi terhadap budaya Jawa.
Acara ini juga menghadirkan Cak Percil, seniman lawak Jawa yang dikenal luas, serta alunan musik campursari yang memikat hati penonton. Pagelaran ini mengusung seni budaya sebagai inti acara, serta menjadi simbol pelestarian nilai-nilai Jawa yang tak lekang oleh waktu.
Dalang Ki Redi Mbelung memimpin pertunjukan dengan piawai, membawakan cerita epik penuh pesan moral dan diiringi oleh alunan gamelan serta suara merdu para sinden. Kehadiran Cak Percil sebagai bintang tamu memberikan nuansa ceria dengan humor khasnya membuat penonton larut dalam tawa dan hiburan. Selain itu, grup campursari tampil memukau dengan lagu-lagu populer yang diaransemen ulang dalam gaya tradisional. Kolaborasi antara wayang kulit, humor, dan musik campursari menciptakan suasana yang penuh kehangatan, mempertemukan generasi tua dan muda dalam satu panggung budaya.
Pagelaran dimulai pada pukul 21.30 WIB dengan suasana meriah, diiringi gamelan yang syahdu melibatkan berbagai instrumen seperti gong, kendang, saron, gender, dan bonang. Gamelan memberikan suasana yang mendukung adegan, baik saat suasana ceria, tegang, maupun sedih. Ki Redi Mbelung membawakan lakon klasik “Bima Suci”, sebuah cerita penuh filosofi tentang perjalanan spiritual dan pencarian makna hidup. Penampilan ini semakin istimewa dengan dukungan para nayaga dan sinden yang memperkaya suasana melalui alunan musik dan tembang Jawa yang indah. Sistem pencahayaan dan tata panggung yang modern juga memberikan sentuhan baru, tanpa mengurangi esensi tradisional dari wayang kulit.
Bahasa Jawa krama kaya akan ungkapan filosofi dan nilai-nilai luhur, tidak semua penonton terutama generasi muda atau orang yang bukan asli Jawa bisa memahami bahasa Jawa krama yang memiliki struktur dan kosa kata yang kompleks. Penonton yang tidak sepenuhnya memahami bahasa Jawa krama mungkin merasa acara terlalu “berat” atau monoton. Hal ini jika tidak diterjemahkan atau dijelaskan, pesan moralnya bisa terlewatkan oleh penonton serta membuat mereka kehilangan makna atau inti cerita. Untuk mengatasi hal tersebut Dalang dapat menyisipkan penjelasan singkat tentang filosofi atau nilai moral tertentu dalam bahasa yang mudah dimengerti.
Pagelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Redi Mbelung di Kabupaten Blitar merupakan refleksi nyata bagaimana seni tradisional dapat terus hidup dan relevan. Acara ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda. Kehadiran Cak Percil dan musik campursari berhasil menjembatani tradisi dan modernitas, menciptakan pengalaman yang mengesankan bagi semua kalangan. Adanya kolaborasi bersama Cak Percil dan grup campursari, acara ini berhasil memikat hati masyarakat, baik tua maupun muda. Semangat untuk melestarikan budaya melalui acara semacam ini patut diapresiasi dan didukung. **









