WartaPress, Timur Tengah – Memasuki hari-hari krusial konflik terbuka antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, perhatian analis militer internasional mulai tertuju pada satu isu krusial: potensi krisis amunisi pertahanan udara di pihak koalisi AS–Israel.
Serangan udara besar-besaran Israel dan AS terhadap fasilitas militer Iran memang terus berlanjut. Namun di saat bersamaan, gelombang rudal balistik dan drone Iran yang ditembakkan secara masif ke berbagai target regional memunculkan tantangan baru yang tidak kalah serius. Setidaknya 7 basis militer AS di kawasan telah dibombardir rudal dan drone Iran. Dilaporkan 3 personel militer AS tewas.
Ratusan Rudal per Hari
Dalam dua hari terakhir, Iran diperkirakan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan Irak. Beberapa target yang disebut terdampak antara lain pangkalan di Irak, Arab Saudi, serta fasilitas strategis di wilayah Israel.
“Rudal rudal Iran menembus pertahanan udara Israel dan AS seperti pisau panas menembus mentega,” kata Patricia Marins, analis perang asal Brazil melalui laman X nya pada Selasa (2/3). Ia memberikan contoh bahwa 1 rudal Iran dicegat oleh setidaknya 9 amunisi Israel, dan rudal Iran masih bisa lolos menuju sasaran. Ini dapat menguras amunisi pertahanan Israel lebih cepat dari perkiraan.
Intensitas ini memaksa sistem pertahanan udara Israel dan AS bekerja tanpa henti. Setiap rudal yang terdeteksi kerap direspons dengan beberapa interceptor sekaligus untuk memastikan pencegatan berhasil. Sejumlah rekaman yang beredar menunjukkan peluncuran beruntun interceptor dalam jumlah besar terhadap satu sasaran masuk.
Ketidakseimbangan Biaya dan Stok
Para analis menyoroti adanya potensi ketidakseimbangan antara jumlah rudal yang ditembakkan Iran dengan ketersediaan interceptor pertahanan.
Rudal balistik relatif lebih murah dibandingkan sistem pencegat canggih yang digunakan oleh Israel dan AS. Jika pola serangan ratusan rudal per hari terus berlanjut, maka konsumsi interceptor diperkirakan akan meningkat drastis.
Beberapa pengamat militer memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, cadangan amunisi pertahanan dapat mengalami tekanan signifikan dalam hitungan hari apabila tidak segera dipasok ulang.
Tekanan Strategis pada Koalisi
Situasi ini menempatkan kepemimpinan Israel dan Amerika Serikat dalam tekanan strategis. Di satu sisi, mereka harus terus mempertahankan wilayah dan pangkalan militer dari serangan masuk. Di sisi lain, operasi ofensif ke dalam wilayah Iran juga tetap berjalan.
Jika sistem pertahanan mulai kehabisan interceptor atau tingkat keberhasilan pencegatan menurun, risiko kerusakan infrastruktur vital dan korban sipil akan meningkat tajam. Beberapa analis bahkan menilai, keberlanjutan konflik kini tidak hanya ditentukan oleh kapasitas peluncuran Iran, tetapi juga oleh daya tahan logistik pertahanan udara koalisi.
Arah Konflik ke Depan
Sejauh ini belum ada sinyal kuat menuju gencatan senjata. Namun jika tekanan terhadap stok pertahanan udara benar terjadi, opsi diplomatik dapat menjadi semakin mendesak.
Pertanyaan yang kini menjadi sorotan komunitas pertahanan global adalah:
Apakah kemampuan peluncuran Iran yang lebih dulu melemah, atau justru persediaan interceptor koalisi yang akan terkuras lebih cepat?
“If this pace holds, defensive munitions won’t last more than 4-5 days. Based on what we’ve observed, Iran launches 200-220 missiles per day, while the coalition expends no fewer than 700-1,000 interceptors (or even more), with very limited success, ” tambah Patricia, yang menyakini bahwa stok amunisi pencegat rudal milik koalisi asumsi kritisnya habis untuk 4-5 hari saja.
Konflik yang semula dipandang sebagai duel udara kini bertransformasi menjadi perang daya tahan logistik—dan hasilnya bisa menentukan arah stabilitas kawasan dalam beberapa hari ke depan. (red2/x). **









