Presisi News Scroll ke bawah untuk membaca
Example floating
Example floating
Narasi

Halaqah Kebudayaan Pesantren Luhur Malang, Hadirkan Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur

567
×

Halaqah Kebudayaan Pesantren Luhur Malang, Hadirkan Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur

Sebarkan artikel ini

WartaPress, Kota Malang – Memperingati Hari Lahir NU yang ke-102, Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang (LTPLM) mengadakan Halaqah Kebudayaan pada Sabtu (18/1/2025). Tema besar yang diangkat dalam acara ini adalah “Pesantren sebagai Pusat Pemajuan Budaya dan Moralitas Bangsa”.

Acara yang diikuti seluruh mahasantri LTP Luhur Malang ini menghadirkan narasumber Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, yang juga merupakan jurnalis senior di Jatim.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil kepada pendiri Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh M. Danial Farafis atau Gus Danial selaku pengasuh pesantren Luhur.

Dalam pemaparannya, Ketua Lesbumi Jatim menyatakan bahwa Pesantren adalah wadah pendidikan tertua yang ada di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia, Pesantren Tegalsari merupakan pesantren tertua yang terletak di Ponorogo Jawa Tengah. Didirikan oleh KH. Hasan Besari, melahirkan tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama serta banyak kyai-kyai yang mendirikan pondok pesantren yang menimba ilmu di Pesantren Tegalsari.

Baca Juga:  KNPI Nilai Polri di Bawah Presiden Sejalan dengan Konstitusi dan Sistem Presidensial
Riadi Ngasiran, Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur menjadi narasumber di Halaqoh Kebudayaan Pesantren Luhur Malang / ltplm

Narasumber menjelaskan pentingnya mengasah ilmu pengetahuan, sebagai gambaran, tokoh islam yang sangat terkenal dan merupakan salah satu dari khulafaur rasyidin yaitu Sayyidina Ali dengan julukan Babul ‘Ilm (pintu ilmu pengetahuan) sebagai contoh yang sangat luar biasa karena kegemarannya dalam menuntut ilmu. Sayyidina Ali menegaskan bahwa Ilmu adalah laksana hewan liar maka cara mengendalikannya harus diikat, diikat dengan tulisan untuk menjaga keutuhan ilmunya. Oleh Karena itu, sebagai santri membiasakan diri dengan cara menulis adalah suatu bentuk untuk mengasah pola pikir dan sebagai wasilah untuk masa depan atas buktinya perjalanan ilmu pengetahuan.

“Memelihara hal yang lama dengan baik dan menerima hal baru dengan lebih baik, yaitu menjaga keutuhan ilmu yang sudah diajarkan oleh kyai selama di pesantren dan menerima ilmu di luar pesantren dengan baik seiring perkembangan zaman,” jelasnya.

Baca Juga:  Mengawal 6 Arahan Presiden Jokowi di Tahun Politik

Dijelaskan juga, masyarakat diluar terkadang masih salah mengartikan sebuah pesantren yang hanya sekedar lembaga pendidikan islam, itu karena tidak sesuai dengan konteks pesantren pada hakikatnya dan tidak diperkuat dengan riyadhah beserta sanad keilmuan yang masih belum jelas. Olehkarena itu, pengertian dari Nahdlah bukan sekedar dari kebangkitan akan tetapi mengenai kebangkitan sebagai pencerahan yang bisa memberikan intelektualitas islam dan berbagai dari sisi keilmuan. Dikutip dalam kitab al-hikam ”janganlah kalian berdekatan dengan orang-orang yang tidak bisa membangkitkan kedekatan dengan Allah SWT” maka berdirinya Nahdlatul Ulama adalah rantai untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan pembiasaan dzikir, shalawat, tahlil dan amaliah-amaliah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan santri berperan sebagi individu yang terus berpikir dan belajar, dibarengi dengan amal shaleh dan dzikir.

Baca Juga:  Pemilu Jelang Masa Tenang, Kolaborasi GenZ Indonesia: Bersama Menjaga Martabat Demokrasi

Riadi Ngasiran juga mengingatkan tentang mendefinisikan santri adalah orang yang terus menerus ingin belajar dan batasan usia bukanlah penghalang untuk berhenti dalam belajar. Dalam proses pembelajarannya, santri tidak hanya dibekali ilmu-ilmu keislaman yang sangat mendalam, tetapi juga diharuskan untuk menaati peraturan yang ada di pesantren agar mereka dapat membentuk pribadi yang disiplin dan mematuhi norma-norma yang ada di masyarakat. “Maka bisa dibilang santri adalah seorang Intelektualitas, karena dengan ke intelektualitasnya menjadikan ruang ekspresi diri yang berkualitas. Santri adalah orang ora mandek berpikir ora mandek sinau,” tambahnya. ***

Sumber: LTPL Malang, Dept Multimedia, El-syabani

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *