WartaPress, Kota Malang — Sebagai wujud penghargaan atas jasanya merintis dan mengembangkan perguruan tinggi islam di Malang, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang berikan penghargaan untuk Prof. Dr. HM. Koesnoe, S.H dan juga kepada Prof Dr Kyai H Ahmad Muchdlor SH.
Seremonial penghargaan dilakukan di Gedung Ir H. Soekarno UIN Maliki pada Selasa lalu (28/10/2025), bertepatan dengan Dies Maulidyah UIN Malang ke 64 dengan tema “64 Tahun UIN Maliki Malang: Integratif, Inspiratif, Kontributif dan Globally Innovative”.
Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP., menyerahkan piagam penghargaan tersebut pada perwakilan keluarga Prof Koesnoe, drg. Illy Koesnoe Yoediono, yang merupakan putri dari Prof Koesnoe. Hadir pula Moh Danial Farafish, S.Ag., SH., M.Hum, atau Gus Danial, yang merupakan putra dari Kyai Muchdlor, yang kini mengasuh Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada UIN Maliki, atas penghargaan ini. Semoga menjadi penambah semangat untuk kita semua dalam melanjutkan cita-cita para pendahulu,” ujar Gus Danial pada media ini usai acara.
Diketahui, Prof Koesnoe sangat besar jasanya pada dunia pendidikan islam di Malang Raya. Guru besar hukum adat tersebut selain mengajar di puluhan negara seperti AS, Belanda, Arab Saudi, dan lainnya, juga aktif dalam mengembangkan perguruan tinggi islam di Malang, termasuk IAIN di Malang yang kini menjadi UIN Maliki.

Sementara Kyai H Ahmad Muchdlor merupakan tokoh yang dikader langsung oleh Prof Koesnoe untuk bersama sama mengembangkan pendidikan islam di Malang. Beliau dikenal sebagai ulama idealis, akademisi dan peneliti, yang mendirikan Universitas Islam Lamongan (Unisla), Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang dan sejumlah lembaga pendidikan lainnya. Salah satu hasil penelitian penting yang dipimpin Abah Muchdlor adalah jejak sejarah situs makam Sunan Giri atau Giri Kedaton.
Pemberian penghargaan ini diapresiasi banyak kalangan sebagai bentuk komitmen UIN Maliki dalam menjadikan semangat para tokoh pendiri tetap hidup demi memajukan lembaga di era sekarang.
“Nilai-nilai seperti gotong royong, keikhlasan, dan pembentukan watak yang membangun adalah warisan semangat beliau-beliau yang sangat relevan di tengah dunia yang makin individualistis,” tambahnya.
Menghargai sejarah dan jejak para perintis, berarti mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan inovasi global. Agar menjadi penuntun, bahwa setiap transformasi pendidikan tetap berorientasi pada kemanusiaan sesuai dengan semangat para pendahulu. (red2/wp). **










