Scroll ke bawah untuk membaca post
Example floating
Example floating
Literasi - Wawasan

Penulis Mpokgaga Luncurkan Buku Amigdala: Residu yang Bersemayam Tentang Perjuangan Bangkit Menjadi Penyintas Kekerasan Domestik

395
×

Penulis Mpokgaga Luncurkan Buku Amigdala: Residu yang Bersemayam Tentang Perjuangan Bangkit Menjadi Penyintas Kekerasan Domestik

Sebarkan artikel ini

WartaPress, Jakarta – Setelah menerbitkan buku pertama dari trilogi Amigdala yakni “Amigdala: Perjalanan Merepresi Memori”, penulis Mega Arnidya alias Mpokgaga kembali melanjutkan kisahnya di buku kedua yang resmi diberi tajuk “Amigdala: Residu Yang Bersemayam”.

Masih berpusat pada tokoh utama yakni Ishtar Mahendra Sumoprawiro, buku kedua bercerita tentang apa yang pernah dialami, seringkali masih menyisakan residu yang belum selesai, menuntut untuk lekas diselesaikan.

“Banyak dari kita (termasuk saya, tentu saja) masih terus bergumul dengan perasaan bersalah, rasa takut, serta ketidakpercayaan diri dalam membangun sebuah hubungan, baik itu secara internal maupun eksternal. Di buku kedua ini, semesta Amigdala dengan para tokohnya kembali mencoba memberikan apa-apa saja yang sudah dan hendak mereka lakukan agar bisa segera keluar dari kubangan residu yang tidak senantiasa memberikan kelancaran dalam menghadapi serta menjalani hal-hal yang perlu diselesaikan,” ungkap Mpokgaga.

Baca Juga:  Awal Mula Tradisi Megengan Jelang Ramadhan di Masyarakat Muslim Jawa

Layaknya semua peristiwa yang dialami manusia pasti meninggalkan jejak atau remah-remah yang menyusup di tiap lekukan labirin otak dan hati. Mpokgaga mengajak para pembaca memasuki lembaran hidup tokoh Ishtar lebih dalam lewat berbagai perjalanannya melintasi kota hingga negara. Tokoh-tokoh baru ataupun tokoh yang pernah bersinggungan dengan kehidupan Ishtar akan dipertemukan dan memicu berbagai ingatan, rasa, serta reaksi yang mendalam. Sama seperti buku sebelumnya, penulis Mpokgaga menggali berbagai referensi baik dari pengalaman pribadi hingga teman terdekat sebagai materi untuk mengembangkan premis di buku kedua ini. Ia pun tidak memungkiri harus kembali menghidupkan kenangan menyakitkan yang membuat hatinya ‘bergetar’ ataupun ‘ngilu’ sebelum memulai menuangkannya lewat paragraf demi paragraf di buku ini. Ketika selesai, Mpokgaga pun bertekad pula menyelesaikan residu-residu yang tertinggal dalam dirinya demi kebaikan dan masa depan sosok yang juga makan asam garam di dunia advertising & digital marketing tersebut.

Baca Juga:  Apakah Produk Jurnalistik-Pers Dapat Digugat dan Dibawa ke Ranah Pidana?

Membagikan kisah yang erat kaitannya dengan kesehatan mental, peluncuran buku kedua ini tidak lepas dari buku pertama yang sukses membuat para pembaca ikut merasakan yang Ishtar rasakan. “Tidak hanya mental, bahkan beberapa pembaca di buku pertama timbul reaksi fisik seperti pusing, mual, muntah, dan bahkan insomnia. Meskipun saya sudah memperingatkan untuk membaca buku ini dalam kondisi mental yang stabil, beberapa pembaca tidak ambil pusing dan kebanyakan berkomentar buku ini GILA,” ujar Mpokgaga. Tidak mematok ekspektasi dari pembacanya, Mpokgaga mengungkapkan tujuannya dari peluncuran tiga edisi Amigdala esensinya tetaplah sama yakni berbagi cerita.

Baca Juga:  Peranan Perawat Dalam Menurunkan Angka Stunting Melalui Pendekatan Biopsikososial

“Setiap cerita memiliki porsi residu yang saya rasa sama “beratnya”. Ekspektasi tertinggi saya tentang semesta Amigdala hanyalah bagaimana saya tetap bisa membagikan cerita yang sebenar-benarnya, dan siapapun bisa mengalaminya,” tuturnya. (Rls/ed-wp). **

Example 120x600